Ekspor Alas Kaki Bakal Anjlok 40%
JAKARTA, investor.id - Nilai ekspor alas kaki diperkirakan bakal anjlok hingga 35-40% pada 2023 menjadi US$ 4,64 miliar atau setara Rp 71,42 triliun, dibanding tahun lalu US$ 7,74 miliar. Order dari pasar utama seperti Amerika Serikat dan Eropa sudah merosot tajam sejak awal 2023.
“Tahun ini berat sekali, kemungkinan masih sampai 2024. Pasti secara akumulasi turun dibanding 2022, kemungkinan ekspor bisa turun 35-40%,” kata Direktur Eksekutif Asosiasi Persepatuan Indonesia (Aprisindo) Firman Bakri kepada Investor Daily di Jakarta, baru-baru ini.
Padahal, menurut Firman, kinerja ekspor alas kaki selama pandemi Covid-19 mengalami pertumbuhan, berbeda dengan sebagian industri lainnya yang mati suri. Pada 2020, ekspor alas kaki naik 8,96% menjadi US$ 4,8 miliar, dan tahun berikutnya melonjak 28,76% menjadi US$ 6,18 miliar. Ekspor tahun lalu masih meningkat 25,15% menjadi US$ 7,74 miliar.
“Pada 2022 kita tumbuh cukup luar biasa, meski di pertengahan tahun mulai drop. Pesanan buyer mulai turun di pertengahan 2022, sehingga yang awalnya ekspektasi pertumbuhan kami lebih tinggi dari tahun sebelumnya, akhirnya menjadi 25%,” tutur dia.
Firman mengungkapkan, penurunan order terus berlanjut hingga awal tahun ini. Kondisi tersebut diperkirakan berlangsung hingga 2024.
“Pasar dalam negeri tidak bisa menyubstitusi ekspor, karena karakteristik pasarnya beda. Untuk ekspor kita produk premium, sementara kalau pasar domestik bukan produk premium, jadi beda segmen,” ujar dia.
Pasar Domestik
Firman mengatakan lebih lanjut, tren saat ini bisa mendorong anak-anak muda membuat merek baru yang dapat masuk ke pasar domestik, baik secara online maupun offline. “Kesadaran masyarakat kita terhadap produk lokal cukup tinggi sekarang. Bahkan, ada merek lokal kita yang sudah bisa setara dengan merek-merek global. Secara kualitas, kita apa pun bisa,” kata dia.
Di segmen menengah dan bawah, lanjut Firman, sudah banyak merek lokal yang telah memiliki nama dan pelanggan setia. Ini misalnya Fladeo, Yongki Komalandi, maupun Carvil.
“Itu merek-merek lokal yang secara apresiasi dari sisi brand cukup tinggi di segmennya. Sementara untuk kelas menengah atas, kita juga punya beberapa brand yang sudah kuat seperti Buccheri,” tutur dia.
Penguatan Industri
Direktur Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA) Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Reni Yanita sebelumnya mengatakan, pihaknya memiliki serangkaian program penguatan industri alas kaki di tengah bayang-bayang resesi global. Kemenperin melalui Direktorat Jenderal IKMA telah menyiapkan mitigasi agar industri alas kaki nasional lebih tahan banting, dengan memperkuat rantai pasok dan menggarap potensi industri alas kaki di pasar domestik.
“Meskipun 2023 dihantui kembali resesi ekonomi dunia, pemerintah dalam hal ini Kemenperin sangat yakin industri alas kaki nasional mampu bertahan. Pemerintah telah menyiapkan kebijakan fiskal maupun nonfiskal sebagai upaya mitigasi terhadap resesi,” ujar dia.
Dirjen IKMA mengemukakan, industri ini tergolong padat karya. Total penyerapan tenaga kerja sebanyak 159.400 orang dari total IKM alas kaki.
Baca Juga:
Menlu RI Sampaikan Surat Jokowi ke YoonGuna memperkuat kinerja di sektor industri alas kaki, Ditjen IKMA melalui Balai Pemberdayaan Industri Persepatuan Indonesia (BPIPI) terus melakukan kolaborasi dengan mitra bisnis IKM alas kaki. Selain program kemitraan, BPIPI mendorong program pengembangan produk, yang di dalamnya terdapat pengembangan teknologi serta program akses pasar promosi pemasaran bagi IKM alas kaki berorientasi ekspor.
Kemenperin juga memberikan stimulus bagi IKM beroerientasi ekspor dengan kemudahan impor bahan-bahan tertentu untuk produk tujuan ekspor. “Fasilitasi ini termasuk dengan mempermudah pengurusan Kemudahan Impor Tujuan Ekspor (KITE) dan Neraca Komoditas bagi IKM. Prioritas integrasi perizinan mulai dari pengurusan NIB, termasuk Sistem Informasi Industri Nasional (SIINas) yang dipermudah dan dipercepat, khususnya perizinan yang sifatnya lintassektoral melalui pendampingan industri,” paparnya.
Tumbuhnya industri pendukung alas kaki, penguasaan brand lokal di pasar domestik, dan bertambahnya IKM yang naik kelas, lanjut dia, akan menguatkan interaksi di dalam ekosistem. Dengan ekosistem yang kuat, industri alas kaki nasional akan lebih mandiri dan kuat.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Tag Terpopuler
Terpopuler






