Pengusaha Susu Lokal Diminta Tingkatkan Efisiensi dan Daya Saing
JAKARTA, Investor.id – Guru Besar Universitas Negeri Jakarta Gatot Nazir Ahmad mengingatkan pengusaha susu lokal untuk tidak hanya bergantung pada proteksi pemerintah, tetapi juga fokus pada peningkatan efisiensi dan daya saing. Inovasi dan efisiensi sangat penting agar industri susu nasional tetap kompetitif di pasar yang semakin terbuka.
Gatot menjelaskan, kebijakan ini berfungsi sebagai perlindungan bagi industri lokal agar mampu menghadapi persaingan yang tak seimbang dengan produk impor yang seringkali lebih murah.
"Tarif bea masuk (BM) impor memberikan kesempatan bagi produsen lokal untuk bertumbuh dan meningkatkan daya saingnya," ujar Gatot, Senin (18/11/2024).
Dirjen Bea dan Cukai Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani menjelaskan, tarif BM 0% susu impor merupakan bagian dari free trade agreement (FTA) Indonesia dan negara mitra dagang.
Gatot menambahkan, meskipun perjanjian perdagangan, seperti Indonesia Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA) dan Asean-Australia-New Zealand FTA memperluas akses produk Indonesia di pasar internasional, kebijakan ini tetap mempertimbangkan perlindungan untuk sektor yang sensitif.
Dalam skema IA-CEPA, Indonesia memberlakukan tarif bea masuk sebesar 4% untuk beberapa produk susu impor berkode HS 0401.10.10, 0401.10.90, dan 0401.20.90 hingga 2032. Tarif ini dihapus secara bertahap dan mencapai 0% pada tahun 2033. Untuk produk dengan kode HS 0401.20.10, penurunan tarif diterapkan secara bertahap.
Baca Juga:
Momentum Dongkrak Produksi Susu NasionalSelain IA-CEPA, AANZFTA yang telah diamandemen melalui protokol kedua juga mengatur liberalisasi tarif secara selektif. Rata-rata liberalisasi tarif di antara negara anggota AANZFTA mencapai 91,94%, dengan liberalisasi penuh di Australia, Selandia Baru, dan Singapura.
“Kebijakan bertahap ini memberikan produsen lokal waktu untuk meningkatkan efisiensi dan kualitas produk mereka agar tetap kompetitif di pasar,” tambah Gatot.
Sebagai langkah strategis, dia menuturkan, pemerintah meningkatkan akses peternak lokal ke teknologi dan peralatan modern, serta menyediakan subsidi dan inisiatif fiskal untuk menekan biaya produksi dan meningkatkan daya saing produk lokal.
"Dengan memperkuat standar kualitas, dukungan teknologi, dan subsidi tepat sasaran, kita bisa menjaga daya saing produk lokal di tengah tantangan global,” ujar Gatot.
Menteri Koperasi dan UKM Budi Arie Setiadi sebelumnya mengungkapkan, tantangan utama yang dihadapi peternak sapi perah dalam negeri adalah ketidakmampuan bersaing di pasar lokal, sebagian besar disebabkan oleh perjanjian perdagangan bebas yang mempermudah produk susu impor masuk ke Indonesia. Oleh sebab itu, kebijakan BM tetap diberlakukan untuk melindungi peternak lokal dan memberi ruang bagi industri susu domestik agar terus berkembang.
Editor: Harso Kurniawan
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Tag Terpopuler
Terpopuler






