Kamis, 14 Mei 2026

Produsen Minuman Teh RTD Didorong Beralih ke Kemasan Karton

Penulis : Happy Amanda Amalia
19 Jul 2025 | 09:15 WIB
BAGIKAN
Direktur Pemasaran untuk Tetra Pak Malaysia, Singapura, Filipina dan Indonesia, John Jose. (Investor Daily)
Direktur Pemasaran untuk Tetra Pak Malaysia, Singapura, Filipina dan Indonesia, John Jose. (Investor Daily)

JAKARTA, investor.id – Larangan penggunaan botol plastik sekali pakai, yang sudah lama dicanangkan Pemerintah RI, telah membuka peluang bagi Tetra Pak untuk mendorong produsen minuman teh dalam kemasan atau ready-to-drink (RTD tea) di Indonesia untuk beralih menggunakan kemasan karton. Langkah ini juga sebagai bentuk ekspansi perusahaan untuk masuk ke pasar minuman teh Indonesia.

Berdasarkan laporan KenResearch 2024, berjudul “Indonesia Ready To Drink Tea Market Outlook to 2030”, estimasi nilai pasar untuk jenis minuman tersebut diklaim mencapai sekitar US$ 1,1 miliar. Bahkan industri minuman teh RTD di Indonesia merupakan salah satu segmen yang paling dinamis dan berkembang pesat.

Itu karena pertumbuhannya didorong oleh peningkatan permintaan konsumen akan minuman yang praktis, sadar kesehatan, dan munculnya platform e-commerce. Urbanisasi pun turut memainkan peran penting dalam meningkatkan permintaan.

ADVERTISEMENT

Namun seiring meningkatnya biaya produksi, perubahan pilihan konsumen, serta beragam regulasi baru terkait, industri minuman teh siap minum dalam kemasan di Indonesia memasuki fase transformasi yang krusial. Tetra Pak pun berkomitmen untuk mendukung industri minuman teh RTD dengan bekal pengalaman global dan teknologi canggih.

Sebagai bagian dari komitmen tersebut, Tetra Pak baru-baru ini melakukan survei Usage and Attitude (U&A) yang dilakukan pada Februari 2025 dengan melibatkan sekitar 750 responden dari Indonesia dan total 6.000 responden secara global.

Direktur Pemasaran untuk Tetra Pak Malaysia, Singapura, Filipina dan Indonesia, John Jose mengatakan, studi U&A menyoroti pilihan untuk kemasan yang lebih berkelanjutan, di mana karton dianggap lebih ramah lingkungan daripada PET.

Tetra Pak pun memanfaatkan portofolio kartonnya, terutama Tetra Prisma Aseptic, untuk menawarkan kepada merek-merek sebuah cara untuk membedakan dan menarik konsumen yang sadar lingkungan.

“Konsumen muda memilih kemasan karton karena daya tarik premium, tampilannya yang modern, ramah lingkungan, dan daya tarik visualnya. Tetra Pak melihat hal ini sebagai peluang untuk membantu merek-merek melengkapi portofolio mereka yang sudah ada dengan menyasar segmen ini dengan produk yang berbeda dalam kemasan karton,” ujar John kepada Investor Daily.

Ditambahkan oleh John, teknologi aseptik yang diadopsi pada karton menjadikan produk makanan/minuman dan kemasannya disterilisasi secara terpisah. Selanjutnya, produk akan dimasukkan ke dalam kemasan dan disegel dalam lingkungan yang steril. Dengan proses ini, Tetra Pak mencegah masuknya mikroorganisme selama dan setelah proses pengemasan. Proses ini sekaligus memungkinkan makanan dan minuman tetap awet sehingga dua belas bulan tanpa dimasukkan ke kulkas atau penambahan zat pengawet.

Di pasar yang didominasi oleh minuman teh dalam botol PET dan teh celup, minuman teh dalam kemasan karton selain menawarkan perbedaan visual, juga rasa yang didorong formulasi produk yang unik.

Dalam pemaparannya, 50% responden menyatakan paling sering menikmati minuman the RTD saat berada di luar rumah. Sementara jenis teh yang paling banyak disukai konsumen Indonesia adalah teh melati (47%), teh hijau (18%) teh susu (12%) dan teh matcha (10%). Untuk rasa, teh apel ternyata paling disukai oleh responden (22%) dan lemon (19%).

“Melalui pendekatan kolaboratif dan inovasi kemasan yang adaptif, kami membantu mitra-mitra kami menjawab ekspektasi konsumen masa kini. Tujuan kami bukan hanya mendukung keberlangsungan industri, tetapi juga mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan dan berorientasi pada konsumen,” ungkap John.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 23 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 55 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia