Kamis, 14 Mei 2026

Transparansi Harga Jadi Sorotan dalam Investasi Perak

Penulis : Happy Amanda Amalia
13 Mei 2026 | 20:08 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi - Konsumen membeli perak. (Ist.)
Ilustrasi - Konsumen membeli perak. (Ist.)

SURABAYA, Investor.id — Transparansi harga mulai menjadi perhatian utama dalam industri investasi perak (silver) di Indonesia. Di tengah meningkatnya minat masyarakat terhadap logam mulia, masih banyak investor membeli perak dengan harga yang tidak sepenuhnya mengikuti pasar internasional akibat hidden markup dan biaya tambahan yang tidak selalu dijelaskan secara terbuka.

Kondisi tersebut dinilai membuat investasi perak menjadi kurang efisien, dan berpotensi mengurangi keuntungan investor saat melakukan transaksi jual maupun buyback.

Melihat kondisi itu, Nellava Bullion memperkenalkan sistem Silver Live Price yang memungkinkan pelanggan memantau harga perak secara langsung mengikuti pergerakan pasar global melalui situs resminya.

ADVERTISEMENT

Melalui sistem tersebut, harga perak ditampilkan secara real-time sehingga pelanggan dapat melihat perubahan harga pasar secara lebih terbuka sebelum melakukan transaksi pembelian.

Selain menghadirkan sistem live price, perusahaan juga memperkuat layanan buyback perak dengan skema valuasi yang diklaim mengikuti harga pasar internasional secara transparan.

Brand Manager Nellava Bullion, Niki R Hashbiah, mengatakan transparansi harga dan buyback menjadi aspek penting dalam membangun kepercayaan investor terhadap instrumen logam mulia.

“Kami ingin mengubah cara masyarakat melihat investasi silver. Customer berhak mendapatkan harga yang jelas dan sistem buyback yang memberikan rasa aman,” ujarnya.

Perusahaan menilai sistem harga real-time dan buyback terbuka dapat menjadi langkah untuk mendorong praktik investasi perak yang lebih sehat, juga transparan di Indonesia, sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap perdagangan logam mulia.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 4 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 33 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia