Kamis, 14 Mei 2026

Perusahaan Nikel Berebut Bahan Baku

Investor.id
19 Aug 2016 | 11:53 WIB
BAGIKAN

Jonatan Handojo mengungkapkan, perusahaan-perusahaan smelter nikel juga kini berebut bahan baku.Handojo mencatat, total smelter nikel di Indonesia mencapai 20 perusahaan, dengan produksi nikel murni sebanyak 416 ribu ton. Kebutuhan bijih nikel industri ini mencapai 21 juta ton per tahun. Ironisnya, tak ada data cadangan bijih nikel yang valid.


Handojo mengungkapkan, bijih nikel sulit didapat belakangan ini. Cadangan bijih nikel di Indonesia diduga sudah menipis akibat aksi ekspor besar-besaran pada 2013 sebelum Undang-Undang Mineral dan Batubara (UU Minerba) diberlakukan pada 2014.

ADVERTISEMENT


Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor nikel pada 2013 mencapai 65 juta ton, melonjak 35% dari 2012 sebanyak 48 juta ton. Dari jumlah itu, sebanyak 58 juta ton dipasok ke Tiongkok. “Saya dengar kabar ada ‘gunung’ nikel yang berasal dari Indonesia di salah satu daerah di Tiongkok,” tutur Handojo.


Seiring dengan itu, dia menuturkan, dua produsen nikel, PT Indoferro dan PT Sulawesi Mining Investment (SMI), kini bertarung sengit memperebutkan bijih nikel di Sulawesi Tenggara dan Maluku. Bijih nikel yang dibutuhkan dua perusahaan itu memiliki kadar besi 20% dan nikel 2%.


“Sekarang tidak ada harga spot, melainkan dilelang. Yang paling berani menawar tinggi bisa mendapatkan nikel,” ujar Handojo, yang juga business development Growth Steel Group, induk usaha Indoferro.


Dirjen Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi dan Elektronika Kemenperin I Gusti Putu Suryawirawan mengakui, beberapa perusahaan smelter tengah kesulitan bahan baku. Kini mereka berupaya mengatasi masalah itu.


“MIJS memerlukan tambahan investasi agar jenis bahan baku yang dipakai lebih beragam. Adapun DPS tengah mengurus izin pinjam pakai lahan hutan untuk mendapatkan bahan baku,” kata dia. (rap/lm/gor)


Baca selanjutnya di http://id.beritasatu.com/home/sumber-daya-galian-tambang-nikel-sudah-terkuras/148465

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 29 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia