Kamis, 14 Mei 2026

Rusal Rusia Siap Bangun Smelter US$ 6 Miliar

Penulis : Anis Rifatul Ummah
19 Nov 2013 | 19:35 WIB
BAGIKAN

JAKARTA - Menteri Koordinator bidang Perekonomian Hatta Rajasa mengatakan perusahaan alumunium asal Rusia, United Company Russian Alumunium (UC Rusal) siap melakukan investasi jangka panjang untuk pembangunan smelter di Kalimantan senilai enam miliar dolar AS.

"Rusal akan melakukan investasi sebesar enam miliar dolar AS, dimulai dengan tiga miliar dolar AS dulu untuk membangun smelter dari bauksit ke alumina," ujarnya seusai menerima kunjungan CEO UC Rusal Oleg Deripaska di Jakarta, Selasa (19/11).

Hatta menjelaskan UC Rusal tertarik untuk mengembangkan industri hilirisasi di Indonesia, apalagi Undang-Undang No.4/2009 tentang Mineral dan Batu Bara telah menegaskan pelarangan ekspor bahan baku tambang ke luar negeri mulai 2014.

"Sesuai UU maka sejak Januari kita tidak lagi berlakukan ekspor bahan mentah, terutama bauksit, karena selama ini lebih dari 40 juta ton pertahun bauksit mentah kita diekspor ke Tiongkok. Ini tidak memberikan manfaat besar dalam meningkatkan nilai tambah," ujarnya.

Dengan demikian, Hatta mengharapkan pembangunan pabrik pengolahan bahan mentah bauksit menjadi alumina tersebut dapat mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai basis industri dan pengembangan produksi alumunium dalam negeri.

"Kita harapkan Indonesia berpotensi menjadi basis industri aluminium, dimana kita juga akan memiliki Inalum yang selama ini mengambil (bahan baku) alumina dari luar negeri, padahal kita punya bauksit. Oleh sebab itu industri smelter ini bisa juga mendukung Inalum untuk menghasilkan aluminium," ujarnya.

Hatta memastikan UC Rusal juga akan menggandeng mitra lokal di Indonesia yaitu PT Aneka Tambang (Persero) Tbk untuk pembangunan pabrik pengolahan yang direncanakan memiliki kapasitas produksi sekitar 1,8 juta ton per tahun ini.

Namun, ia mengatakan perusahaan asal Rusia ini masih menginginkan adanya kepastian terkait konsistensi pemerintah dalam menerapkan Undang-Undang No.4/2009, serta kondisi kemudahan berusaha dan iklim investasi di Indonesia.

Menurut rencana, pembangunan pabrik pengolahan (smelter) tersebut akan selesai dan berproduksi dalam empat tahun. Saat ini, Kementerian Perindustrian sedang membuat tim teknis untuk melakukan studi kelayakan dengan UC Rusal. (ID/ths/ant)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 11 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 22 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 51 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia