Kamis, 14 Mei 2026

Ekonomi Kembali Bergerak, BCA Siap Dukung Sektor Usaha

Penulis : Thomas E Harefa
13 Jul 2020 | 22:16 WIB
BAGIKAN
Jahja setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Beritasatumedia Photo/DEFRIZAL
Jahja setiaatmadja, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA). Beritasatumedia Photo/DEFRIZAL

JAKARTA, investor.id – PT Bank Central Asia Tbk (BCA) menyambut positif pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di beberapa daerah seperti DKI Jakarta, karena akan membuat perekonomian kembali bergerak. Berkaitan itu, perseroan siap mendukung sektor usaha untuk kembali bangkit dengan memberikan kredit modal kerja atau kredit investasi.

Hal itu disampaikan Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja pada BCA Virtual Editor Meeting, Senin (13/7/2020). Pada kesempatan itu hadir Wakil Presiden Direktur BCA Suwignyo Budiman, Direktur BCA Vera Eve Lim, dan Direktur BCA Subur Tan.

"Dari Januari pelaku usaha sudah siap untuk berdagang, tetapi terjadi Covid-19. Lalu pada bulan akhir Juni baru dilonggarkan. Selama periode itu (PSBB) seperti mati suri. Jangan lupa Jakarta juga pusat distribusi, sehingga karena ada PSBB barang-barang tidak bisa dikirim. Itulah gambaran selama bulan April, Mei, dan Juni," kata Jahja.

Jahja pun membandingkan, masa krisis akibat Covid-19 lebih mengkhawatirkan bila dibandingkan krisis tahun 1998 maupun 2008. Menurut dia, saat krisis 1998 yang terkena dampaknya big corporation. Hal ini karena mereka over leverage. Sementara, pada saat itu UMKM masih bisa survive dengan berjualan karena mereka pinjamannya kecil. Krisis tahun 2008 yang terjadi di Amerika Serikat (AS) dan gejolak likuiditas juga dampaknya tidak berat.

ADVERTISEMENT

Pada kondisi saat ini, Jahja mengibaratkan pelaku usaha seperti orang-orang di dalam mobil lalu terjadi tabrakan. Pasti mereka semua butuh transfusi darah dahulu. Setelah itu, ditolong dari yang sakitnya paling ringan terlebih dahulu untuk menyelamatkannya.

"Yang penting sekarang kita memilah-milah dahulu industri apa saja yang perlu kita support, contohnya mie instan. Di samping itu, apakah semua sektor industri termasuk pariwisata, hotel, restoran, dan lain-lain, kita enggak bantu sama sekali? Enggak juga. Kalau hotel yang reputasinya bagus saat normal dia penuhi (debitor baik), dia butuh renovasi kita support, mereka juga kan butuh mempertahankan karyawannya. Nah, ini dia bisa ambil modal kerja. Jadi saya kira di samping industri juga keadaan nasabah satu persatu. Kita enggak berpaku pada suatu sektor tergantung industri dan nasabah itu," jelas dia.

Sektor-sektor seperti produk dan layanan kesehatan hingga makanan dipandang bakal tetap tumbuh. Selain itu, pihaknya mendukung proyek-proyek pembangunan infrastruktur. "Contohnya food industry, kita sudah di situ. Kesehatan juga harus dipilah, kesehatan yang mana? Ini agak anomali, karena enggak semua bagus. Sebagai contoh rumah sakit rujukan Covid-19 penuh sesak. Tapi, rumah sakit yang tidak terima pasien Covid-19 justru sepi," kata Jahja.

Pada kesempatan itu, Jahja menjelaskan, pihaknya optimistis perekonomian Indonesia bisa bangkit. Hal ini belajar dari pencapaian kinerja ekonomi kuartal I-2020 yang tetap tumbuh meski banyak negara yang perekonomiannya negatif. "Kuartal I-2020 ada growth. Pada kuartal II negatif, itu wajar karena PSBB. Kuncinya pada kuartal III. Kita harapkan secara gradual masa transisi, business back to new normal. Kalau kita negatif (pertumbuhan kuartal III), jangan terlalu pesimistis, kita (harus) melihat masa depan," kata dia.

Pada kesempatan itu, Subur Tan menjelaskan, BCA telah melakukan restrukturisasi korporasi sampai akhir juni sekitar 23% terhadap total kredit yang disalurkan, dan untuk komersial sekitar 17%. Dia juga menjelaskan, pihaknya sudah menyiapkan plafon kredit korporasi sebesar Rp 45 triliun. Meski demikian, sampai saat ini pencairannya masih kecil. “Dari apa yang kami tangani (restrukturisasi) kami melihat sementara berjalan cukup baik. Tapi tetap waspada apakah ada gelombang kedua resrtrukturisasi. Kami membuka cabang dan wilayah untuk melayani restruktusasi,” kata dia.

Sementara itu, Suwignyo juga mengatakan, pandemi Covi-19 menghantam usaha kecil dan menengah (UKM) sehingga mereka kesulitan menganggsur cicilan. Dia menjelaskan, pada intinya sebagai bank, BCA follow the business. Artinya, sektor bisnis mana yang tumbuh dan memerlukan kredit, maka pihaknya akan masuk.

“Sebenarnya kredit baru juga ada terus kami salurkan untuk usaha kecil dan konsumen. Mereka juga tetap angsur misalnya untuk KPR. Namun, jumlah angsuran ini ternyata lebih banyak daripada pinjaman baru, sehingga outstanding kredit di UKM dan konsumer menurun. Bukan berarti kami tidak mengeluarkan kredit baru. Sebab, dalam 1 bulan ini untuk KPR kami masih disbursed sekitar Rp 1 triliun, tapi yang angsur bisa mencapai Rp 1,7-2 triliun jadi kami tekor terus,” kata dia.

Jahja juga menambahkan, likuditas BCA sampai saat ini tetap memadai. Pada periode Januari-Juni 2020, dana pihak ketiga (DPK) BCA masih bertambah untuk giro, tabungan, dan deposito. “Meskipun bunga deposito sudah di bawah 4%, tapi masih terus bertambah,” kata dia.

Editor: Thomas Harefa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 28 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia