Kredit Perbankan Tumbuh 9,16% pada Kuartal I-2025
JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) melaporkan pertumbuhan kredit perbankan sebesar 9,16% year on year (yoy) yang berakhir pada Maret 2025 atau kuartal I-2025. Dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit dan kondisi likuiditas masih cukup memadai.
Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan April 2025, pada Rabu (23/4/2025) menyatakan bahwa kredit perbankan tetap tumbuh positif dalam mendukung pertumbuhan ekonomi.
“Pertumbuhan kredit pada Maret 2025 tercatat sebesar 9,16% year on year, lebih rendah dari 10,3% year on year pada Februari 2025,” demikian ungkap Perry.
Baca Juga:
Kredit UMKM Dihantam Daya BeliDalam jenis pengunaa, pertumbuhan kredit investasi masih relatif tinggi yaitu 13,36% yoy, sementara pertumbuhan kredit konsumsi dan kredit modal kerja masing-masing tercatat sebesar 9,32% yoy dan 6,51% yoy pada kuartal I-2025.
“Pembiayaan syariah tumbuh 9,18% yoy sementara kredit UMKM tumbuh sebesar 1,95% yoy,” imbuh Perry.
Dia juga melaporkan bahwa dari sisi penawaran, minat penyaluran kredit dan kondisi likuiditas masih cukup memadai. Meskipun turut disebutkan bahwa sejumlah bank mulai menghadapi kendala dalam meningkatkan pendanaan, baik dana pihak ketiga (DPK) maupun sumber lainnya untuk penyaluran kreditnya.
Baca Juga:
Kredit Menganggur di Bank MenggunungDari sisi permintaan, kontribusi pertumbuhan kredit terutama didukung pada sektor industri pertambangan dan jasa sosial. Sementara kontribusi pertumbuhan kredit dari sektor konstruksi dan perdagangan masih terbatas seiring dengan pola pertumbuhan sektoral ekonomi Indonesia.
“Ke depan, berbagai risiko ketidakpastian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan kredit dan preferensi penempatan aset likuid oleh perbankan,” tandas Perry.
Baca Juga:
BI Rate Ditahan 5,75% pada April 2025Di sisi lain, Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada 22-23 April 2025 juga memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 5,75%, suku bunga deposit facility menjadi 5,00%, dan suku bunga lending facility menjadi 6,50%.
“Keputusan ini konsisten dengan upaya menjaga perkiraan inflasi 2025 dan 2026 tetap terkendali dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, mempertahankan stabilitas nilai tukar rupiah yang sesuai fundamental di tengah meningkatnya ketidakpastian global serta turut mendukung pertumbuhan ekonomi,” tandas Perry
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
DPR Soroti Kepercayaan Pasar di Tengah Tekanan Rupiah
Anggota Komisi XI DPR Marwan Cik Asan mendorong pemerintah dan BI menjaga kepercayaan pasar di tengah tekanan terhadap rupiah.Ujian Berat bagi Saham BUMI
Saham Bumi Resources (BUMI) menjadi salah satu yang banyak dilego oleh investor asing. Ini menandai tekanan terhadap saham BUMI berlanjut.Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China
Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya
Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karatDuit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaTag Terpopuler
Terpopuler






