Perbankan Kesulitan Meningkatkan DPK
JAKARTA, investor.id – Bank Indonesia (BI) mengungkapkan bahwa sejumlah bank tengah mengalami kesulitan dalam meningkatkan pendanaan, baik itu dana pihak ketiga (DPK) maupun sumber lainnya. Persoalan ini pula yang pada gilirannya ikut membayangi prospek penyaluran kredit ke depan.
Dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bulanan Bulan April 2025 yang digelar secara daring pada Rabu (23/4/2025), Bank Indonesia kembali tak menyebutkan perkembangan terbaru dana pihak ketiga (DPK) perbankan. Perkembangan DPK terakhir kali disebutkan dalam RDG BI pada Juli 2024 atau sembilan bulan yang lalu.
Sejak saat itu, DPK perbankan memang masih bertumbuh, tetapi dengan kecenderungan melambat. Data terakhir berdasarkan data Uang Beredar (M2) Februari 2025, DPK cuma tumbuh 5,1% year on year (yoy). Tak ayal, belakangan Bank Indonesia mengakui bahwa beberapa bank sedang kesulitan dalam penghimpunan DPK.
Baca Juga:
DPK Bank Tumbuh 5,1% pada Februari 2025“Minat penyaluran kredit dan kondisi likuiditas masih cukup memadai, meskipun sejumlah bank mulai menghadapi kendala dalam meningkatkan pendanaan, baik dana pihak ketiga (DPK) maupun sumber lainnya untuk penyaluran kreditnya,” beber Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo pada Rabu (23/4/2025).
Sebagai acuan alternatif, Bank Indonesia hanya mengungkap indikator likuiditas perbankan seperti Alat Likuid terhadap Dana Pihak Ketiga (AL/DPK) pada Maret 2025 yang tinggi sebesar 26,22%. Bank sentral juga meyakinkan bahwa permodalan perbankan masih memadai untuk menghadapi risiko ke depan, dengan rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi sebesar 26,95% pada Februari 2025.
Namun kekhawatiran tentang likuiditas perbankan yang semakin mengetat tak dapat disembunyikan. Kesulitan yang dialami perbankan dalam menghimpun pendanaan, ditambah dengan ketidakpastian global, makin benderang bahwa prospek pertumbuhan kredit memang agak suram.
“Ke depan, berbagai risiko ketidakpastian global dan dampaknya terhadap perekonomian domestik perlu menjadi perhatian karena dapat memengaruhi prospek pertumbuhan kredit dan preferensi penempatan aset likuid oleh perbankan,” ujar Perry.
Baca Juga:
Simpanan Jumbo Tumbuh TipisPertumbuhan kredit mulai bergerak ke level single digit atau sebesar 9,16% yoy. Pelemahan kinerja kredit perbankan ini terjadi bahkan sebelum genderang perang tarif antara AS dan China ditabuh, seperti dimulai pada 2 April 2025 sejak pengumuman tarif resiprokal oleh Presiden AS Donald Trump.
Realitas tersebut mendorong Bank Indonesia mulai memandang bahwa pertumbuhan kredit perbankan mungkin hanya berada di batas bawah dari target 11-13%.
Apa yang Dilakukan?
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO
Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast
Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di IndonesiaBERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan
Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Tag Terpopuler
Terpopuler






