Industri Rancang Asuransi Keracunan untuk Program MBG
JAKARTA, investor.id – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama asosiasi di sektor asuransi tengah merancang produk yang relevan untuk mendukung penyelenggaraan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Terdapat dua risiko yang telah teridentifikasi yaitu terkait keracunan makanan yang bisa dialami penerima manfaat dan risiko kecelakaan kerja bagi pihak penyelenggara program MBG.
Kepala Eksekutif Pengawas Perasuransian, Penjaminan, dan Dana Pensiun (KE PPDP) OJK, Ogi Prastomiyono menyampaikan, pihaknya mendorong pelaku usaha asuransi untuk terus mendongkrak penetrasi asuransi yang kini masih rendah. Salah satu kebijakan OJK adalah meminta pelaku usaha untuk berperan aktif dalam program-program pemerintah.
“Saat ini Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) dan Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) sedang menyusun proposal awal bagaimana industri asuransi dapat mendukung program-program pemerintah, termasuk program makan bergizi gratis atau MBG,” ungkap Ogi dalam konferensi pers, dikutip pada Minggu (11/5/2025).
Dia mengatakan, terdapat dua risiko yang diidentifikasi pada tahap awal ini. Pertama, terkait dengan risiko keracunan makanan atau food poisoning yang dapat dialami oleh para penerima manfaat program MBG seperti anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui. Produk perlindungan ini rencananya akan diselenggarakan oleh industri asuransi jiwa.
Kedua, terkait dengan perlindungan terhadap risiko kecelakaan kerja untuk para penyelenggara program MBG, baik itu perlindungan kepada Sarjana Penggerak Pembangunan Indonesia (SPPI) maupun Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Produk asuransi tersebut akan diselenggarakan oleh perusahaan asuransi umum di bawah naungan AAUI.
Dalam perkembangannya, dukungan dari industri asuransi ini masih dalam tahap koordinasi untuk selanjutnya proposal dapat disajikan kepada pihak terkait, seperti Badan Gizi Nasional (BGN). Koordinasi antara OJK dan pihak asosiasi ini juga termasuk membahas besaran premi yang dibayarkan maupun santunan yang dapat diberikan.
“Kami ingin memastikan bahwa besarnya premi—karena ini menyeluruh—mungkin tidak terlalu besar. Sehingga bisa memenuhi harapan bagi risiko-risiko keracunan makanan maupun kecelakaan kerja,” tandas Ogi.
Seperti yang telah diwartakan, pemerintah menargetkan jumlah penerima manfaat dari program MBG sebanyak 82,9 juta anak dan ibu hamil pada akhir 2025. Untuk memastikan ini terealisasi, pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran sampai dengan Rp 171 triliun.
Insiden Keracunan & Dukungan Ekosistem
Program MBG kembali disorot setelah terjadinya insiden keracunan massal di beberapa daerah. Adanya kasus ini menuai kritik dari berbagai pihak, termasuk meminta pemerintah mengevaluasi program MBG.
Dietisien dari Rumah Sakit Akademik Universitas Gadjah Mada Leiyla Elvizahro pada Minggu (4/5/2025), menyoroti pentingnya pengawasan ketat dalam sistem distribusi makanan berskala besar, khususnya aspek penyimpanan dan kebersihan. Detail kecil seperti suhu penyajian dan sanitasi dapur berperan besar dalam mencegah kontaminasi. Penting pula mengenali tanda-tanda makanan basi atau tidak higienis.
“Makanan seperti nasi, mie, dan lontong yang kaya karbohidrat akan mudah basi jika disimpan terlalu lama di suhu ruang. Tanda-tandanya antara lain berbau asam, berlendir, atau muncul jamur,” jelas Leiyla.
Leiyla menyebut makanan berbahan dasar daging, ikan, dan susu sebagai kelompok paling rentan. Ciri-ciri makanan tersebut sudah rusak dapat dikenali dari bau menyengat, perubahan warna, hingga tekstur berlendir.
“Kalau sayur dan buah yang busuk dapat dilihat dari bentuknya yang layu, lembek, atau berlendir. Kulit buah juga mengkerut serta timbul jamur berwarna putih atau hijau,” ujarnya.
Sementara itu, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) pada Selasa (30/4/2025), menekankan pentingnya ekosistem yang mendukung program MBG. Program ini tidak hanya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan gizi anak-anak, tetapi juga untuk memperkuat perekonomian lokal.
Ketua Dewan Ekonomi Nasional (DEN), Luhut Binsar Pandjaitan menyarankan agar SPPG, yang saat ini berfungsi sebagai dapur penyedia makan bergizi, membeli bahan baku dari petani sayur, peternak telur, dan pelaku UMKM pangan di sekitar mereka. Langkah ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem lokal yang saling mendukung.
“Dengan mendukung pembelian bahan baku lokal dari petani dan pelaku UMKM di sekitar SPPG, manfaat ekonomi dari program MBG akan meluas dan dirasakan langsung oleh masyarakat sekitar. Ini akan menciptakan ekosistem yang saling mendukung, yang pada akhirnya akan memperkuat perekonomian lokal,” ujar Luhut dalam siaran pers yang diterima pada Selasa (30/4/2025).
Kajian DEN menunjukkan, MBG memiliki potensi yang besar untuk menumbuhkan ekonomi lokal, menciptakan lapangan kerja, meningkatkan permintaan produk pangan dalam negeri, dan memperkuat ketahanan sosial.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






