Kamis, 14 Mei 2026

Petrogres-Jordan Phosphate Bangun Pabrik Asam Fosfat

Penulis : Antara
20 Jul 2011 | 19:17 WIB
BAGIKAN

JAKARTA - PT Petrokimia Gresik (Petrogres) bersama Jordan Phosphate Mines Co Plc membangun pabrik asam fosfat berkapasitas 200 ribu ton per tahun mulai Agustus 2011. Pabrik yang diproyeksikan selesai pada awal 2014 itu untuk menekan ketergantungan impor bahan baku pupuk NPK.

"Pembangunan pabrik tersebut menelan waktu 30 bulan," ujar Direktur Utama Petrogres Hidayat Nyakman, di Jakarta, Rabu, usai menyaksikan penandatanganan kontrak antara PT Petro Jordan Abadi dan konsorsium PT Rekayasa Industri-Wuhan Engineering Co Ltd untuk membangun pabrik asam fosfat dan produk sampingannya di Gresik, Jawa Timur.

Ia menjelaskan, Petrogres bersama Jordan Phosphate Mines Co Plc (JPMC) telah membuat perusahaan patungan, PT Petro Jordan Abadi dengan komposisi saham 50:50. Pada tahap awal sudah ada modal setor masing-masing sekitar dua juta dolar AS.

Pembangunan pabrik tersebut, kata dia, menelan biaya sekitar 184,3 juta dolar AS yang sekitar 70 persen atau 129 juta dolar AS di antaranya merupakan dana pinjaman dari konsorsium Bank Mandiri dan bank ekspor impor Indonesia. Sisanya sebesar 55,3 juta dolar AS merupakan modal sendiri yang berasal dari Petrogres dan JPMC.

"Pembangunan pabrik itu memiliki nilai strategis untuk menjaga kepastian pasokan bahan baku utama pupuk majemuk (NPK) yaitu fosfat," ujar Hidayat.

Ia mengatakan selama ini Petrogres masih mengimpor sekitar 400 ribu ton asam fosfat per tahun, yang sebagian besar diimpor dari Yordania. Petrogres sebenarnya telah memiliki pabrik asam fosfat dengan kapasitas 200 ribu ton per tahun, yang bahan baku batuan fosfatnya juga diimpor dari Yordania dan Mesir.

"Kami membutuhkan sekitar 600 ribu ton asam fosfat untuk memproduksi sekitar 2,2 juta ton NPK Phonska," kata Hidayat.

Untuk mengurangi ketergantungan impor tersebut, lanjut Hidayat, Petrogres menggandeng JPMC sebagai produsen asam fosfat sekaligus penghasil batuan fosfat terbesar di Yordania, untuk membangun pabrik di Indonesia.

"Pasokan batuan fosfat dan asam fosfat di dunia sangat terbatas, dan harganya terus meningkat," ujar Hidayat. Saat ini produsen batuan fosfat terbesar adalah Maroko, Yordania, Mesir, dan Tunisia. Pasokan yang terbatas dan permintaan yang tinggi dari berbagai negara, lanjut dia, mendorong kenaikan harga batuan dan asam fosfat di dunia.

Ia mengatakan saat ini harga asam fosfat di dunia mencapai sekitar 1.100 dolar AS per ton dan harga batuan fosfat menembus angka 220 dolar AS per ton. "Beruntung kami punya kontrak setahun dengan JPMC, sehingga mendapat harga batuan fosfat sebesar 160 dolar AS per ton," katanya. (tk/ant)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 26 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 37 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia