Kamis, 14 Mei 2026

Presiden Yudhoyono Minta Semua Negara Implementasikan Konvensi ILO

Penulis : Antara
14 Jun 2011 | 19:24 WIB
BAGIKAN

JENEWA - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono meminta semua negara yang telah meratifikasi konvensi Organisasi Buruh Internasional bersedia mengimplementasikannya secara konsisten.

"Banyak negara telah meratifikasi konvensi ILO, tapi yang mendesak saat ini adalah implementasi dari konvensi-konvensi itu," kata Presiden Yudhoyono ketika berpidato dalam sesi ke-100 Konferensi Organisasi Buruh Internasional (ILO) di Jenewa, Selasa.

Presiden Yudhoyono menegaskan, delapan konvensi fundamental ILO harus benar-benar diterapkan untuk memastikan para pekerja menikmati keadilan sosial. "Indonesia adalah negara Asia pertama yang meratifikasi delapan konvensi fundamental ILO," katanya.

Presiden optimistis ratifikasi itu akan mempercepat dan menguatkan upaya perlindungan para pekerja Indonesia.

Dalam pidatonya, Presiden juga menyinggung tentang perlindungan terhadap para buruh migran yang bekerja di sektor domestik atau rumah tangga. "Kita harus mendukung 'ILO Convention on Decent Work for Domestic Workers' yang saya yakini akan diadopsi dalam sesi konferensi buruh sedunia," kata Presiden Yudhoyono.

Presiden Yudhoyono menjelaskan, tema tentang buruh migran adalah tema yang sangat penting. Menurut dia, ada sekitar 150 juta buruh migran yang terdata di seluruh dunia. Mereka berperan penting dalam era keadilan sosial saat ini.

Ia menegaskan, setiap negara tidak bisa mengabaikan kontribusi para buruh migran terhadap pasar tenaga kerja dunia. "Kami di Indonesia menyebut para buruh migran ini sebagai pahlawan devisa, karena mereka bekerja keras dan mengabdikan diri untuk kesejahteraan keluarga mereka di rumah," katanya.

Presiden optimistis, konvensi ILO bisa menyediakan panduan bagi negara penampung untuk melindungi para buruh migran yang bekerja di sektor domestik.

"Ini isu yang sangat penting bagi Indonesia, karena porsi yang relatif cukup besar dari buruh migran kami di luar negeri adalah pekerja domestik," katanya.

Presiden Yudhoyono adalah salah satu kepala negara/pemerintahan yang berpidato dalam forum tersebut. Sebelum Presiden Yudhoyono, Presiden Finlandia Tarja Kaaarina Halonen telah berpidato. Kemudian Kanselir Jerman Angela Merkel dan Perdana Menteri Rusia Vladimir Putin juga berpidato. (tk/ant)

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 29 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia