Kamis, 14 Mei 2026

OPEC Debatkan Peningkatan Produksi Minyak di Tengah Isolasi Rusia

Penulis : Grace El Dora
2 Jun 2022 | 13:08 WIB
BAGIKAN
Logo Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). (FOTO: AFP/File)
Logo Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). (FOTO: AFP/File)

WINA, investor.id – Laporan Wall Street Journal di awal pekan ini mengatakan produsen minyak utama (OPEC) sedang mempertimbangkan untuk menangguhkan Rusia dari kesepakatan produksi telah menebarkan keraguan. Artinya, sanksi Rusia bisa mengubah kebijakan OPEC. Aliansi itu kini mendebatkan peningkatan produksi minyak di tengah isolasi Rusia.

Namun hingga saat ini analis memperkirakan produsen OPEC+ kemungkinan masih mempertahankan kebijakan mereka untuk hanya meningkatkan produksi secara moderat, seperti yang telah mereka lakukan sejak Mei 2021.

Produsen minyak utama yang dipimpin oleh Arab Saudi dan Rusia mengadakan pembicaraan pada Kamis (2/6) mengenai apakah akan menyesuaikan produksi, setelah larangan Uni Eropa (UE) atas impor minyak Rusia.

“Langkah seperti itu secara efektif akan mengakhiri perjanjian pasokan kelompok secara prematur dan membuka jalan bagi peningkatan produksi yang tidak terbatas,” kata Stephen Brennock, analis di PVM Energy pada Kamis.

ADVERTISEMENT

Sebanyak 13 negara anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang diketuai oleh Arab Saudi dan 10 mitra mereka yang dipimpin oleh Rusia secara drastis memangkas produksi pada 2020. Pasalnya, permintaan merosot karena pandemi virus corona dan penguncian di seluruh dunia.

Aliansi tersebut telah meningkatkan produksi secara moderat hingga sekitar 400.000 barel per hari setiap bulan sejak tahun lalu, menolak tekanan oleh konsumen utama, termasuk Amerika Serikat (AS), untuk membuka keran lebih luas.

Harapannya adalah bahwa output akan meningkat 432.000 barel per hari lagi pada Juli 2022.

“Sejauh ini, pasar berasumsi bahwa OPEC+ akan menaikkan volume produksi yang direncanakan ... Rusia masih termasuk dalam hal ini,” kata analis Carsten Fritsch dari Commerzbank.

Pembicaraan melalui konferensi video dimulai pada tingkat teknis pada 1200 GMT di markas OPEC di Wina, sebelum pindah ke sesi pleno.

Rusia adalah Negara “Pariah”

Para pemimpin UE pada Senin (30/5) sepakat untuk melarang lebih dari dua pertiga impor minyak Rusia sebagai bagian dari paket keenam sanksi terhadap Rusia, atas serangannya di Ukraina.

Pemerintah Inggris telah mengatakan pihaknya berencana menghentikan impor minyak Rusia pada akhir 2022 dan akhirnya berhenti mengimpor gasnya. Amerika Serikat (AS) juga melarang minyak dan gas Rusia beberapa hari setelah serangan Rusia dimulai pada 24 Februari 2022.

“Rusia sekarang telah berubah menjadi paria,” ujar analis Seb Bjarne Schieldrop. Ia mengatakan bahwa OPEC+ dapat bubar atau sistem kuota yang disepakati akan ditunda di tengah isolasi internasional Rusia.

Pariah adalah sebutan untuk negara yang dianggap tersingkir dalam komunitas internasional. Negara pariah mengalami isolasi internasional, sanksi, atau bahkan invasi oleh negara-negara yang menganggap kebijakan, aksi, atau keberadaannya sendiri tak dapat diterima.

Itu, tambahnya, akan memungkinkan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) untuk menggunakan kapasitas cadangan mereka dan meningkatkan produksi minyak.

“Lebih banyak minyak dari Saudi dan UEA akan memungkinkan Barat menerapkan larangan yang lebih tajam yang memaksa ekspor minyak Rusia lebih rendah tanpa menaikkan harga minyak,” tambah Schieldrop.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Macroeconomy 29 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia