Kamis, 14 Mei 2026

Badan Antimonopoli Filipina Anjurkan Perusahaan Merger dan Akuisisi

Penulis : Grace El Dora
17 Sep 2022 | 06:18 WIB
BAGIKAN
Seseorang menghitung segepok uang Peso Filipina yang diterimanya dari kerabat di pusat pengiriman uang di Makati City, Metro Manila, Filipina pada 19 September 2018. (FOTO: Reuters/Eloisa Lopez)
Seseorang menghitung segepok uang Peso Filipina yang diterimanya dari kerabat di pusat pengiriman uang di Makati City, Metro Manila, Filipina pada 19 September 2018. (FOTO: Reuters/Eloisa Lopez)

MANILA, investor.id – Diperlukan lebih banyak kesepakatan merger dan akuisisi di Filipina untuk mendapatkan persetujuan sebelumnya, kata pengawas persaingan pada Jumat (16/9). Badan antimonopoli Filipina tersebut kini berusaha memperluas tinjauan transaksi untuk melindungi konsumen dengan lebih baik, dengan menganjurkan perusahaan untuk melakukan merger dan akuisisi.

Puluhan perusahaan dalam dua tahun terakhir dibebaskan dari memberi tahu badan antimonopoli. Lembaga tersebut juga meminta persetujuan untuk pengambilalihan dan merger, sebagai bagian dari upaya pemerintah untuk mendorong dan mempercepat kesepakatan selama pandemi.

Tetapi efektif hingga Jumat, merger dan akuisisi yang bernilai di atas 2,5 miliar peso (US$ 43 juta) akan ditinjau, kata Komisi Persaingan Filipina (PCC) dalam sebuah pernyataan.

ADVERTISEMENT

Perusahaan dengan aset atau pendapatan lebih dari 6,1 miliar peso (US$ 106,35 juta) yang terlibat dalam kesepakatan tersebut juga harus meminta persetujuan PCC.

Itu dibandingkan dengan ambang kesepakatan yang jauh lebih besar di atas 50 miliar peso (US$ 871 juta) yang diperkenalkan untuk periode dua tahun mulai September 2020.

Selama waktu itu, PCC membebaskan 55 kesepakatan perusahaan dari tinjauan wajib dan menyetujui enam transaksi.

Pemerintah Filipina meluncurkan operasi badan anti trust pada 2016. Tujuannya mendorong investasi asing dan meningkatkan persaingan di sektor-sektor di mana konsumen telah lama mengeluhkan biaya tinggi dan layanan yang buruk.

Sejak itu, lembaga tersebut telah menerima 227 pemberitahuan dan menyetujui 205 transaksi dengan nilai gabungan 4,63 triliun peso (US$ 80,73 miliar).

“Pihak yang mengetahui merger dan akuisisi yang tidak memenuhi ambang batas dalam dua tahun terakhir, tetapi yang mungkin menyebabkan monopoli atau efek buruk di pasar dapat melaporkannya,” kata PCC dalam pernyataannya.

(US$ 1 = 57,3500 peso Filipina)

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 29 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia