Kamis, 14 Mei 2026

RI – Myanmar Teken Mou Penguatan Upaya Kolaboratif

Penulis : Happy Amanda Amalia
6 Sep 2023 | 12:36 WIB
BAGIKAN
Suasana Dialog Meja Bundar Indonesia dengan Myanmar di Jakarta, pada Selasa (05/09/2023). (Foto: Asean-BAC)
Suasana Dialog Meja Bundar Indonesia dengan Myanmar di Jakarta, pada Selasa (05/09/2023). (Foto: Asean-BAC)

JAKARTA, investor.id – Indonesia dan Myanmar menandatangani memorandum of understanding (MoU) pada Selasa (05/09/2023), melalui Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN) dengan Federasi Kamar Dagang dan Industri Persatuan Myanmar atau Union of Myanmar Federation of Chambers of Commerce and Industry (UMFCCI) untuk memperkuat komitmen kolektif guna mempererat hubungan ekonomi dan mendorong pertumbuhan bersama.

Menurut Ketua Asean Business Advisory Council (Asean-BAC) dan KADIN Arsjad Rasjid, MoU tersebut berfungsi sebagai strategic blueprint untuk memajukan upaya kolaboratif.

“MoU ini menekankan pada pertukaran pengetahuan, keberhasilan, dan penyelenggaraan kegiatan bersama seperti konferensi dan lokakarya. Perjanjian ini memprioritaskan promosi usaha bisnis dan proyek kolaboratif, yang bertujuan memperkuat hubungan ekonomi bagi rakyat Indonesia dan Myanmar,” ujar dia di Jakarta.

ADVERTISEMENT

Ada pun bagian penting dari kemitraan itu terkait dengan perdagangan komoditas. Semisal Indonesia – sebagai eksportir utama minyak sawit – yang memainkan peran penting dalam menjamin ketahanan pangan bagi banyak masyarakat di Myanmar.

Demikian halnya dengan ekspor green gram atau kacang hijau dari Myanmar, yang merupakan makanan pokok Indonesia, sehingga menyoroti sifat simbiosis saling menguntungkan dalam hubungan perdagangan.

Sebagai informasi, perjanjian penting ini menggarisbawahi sejarah hubungan perdagangan antara kedua negara, yang dimulai pada 1949. Sejak itu, Indonesia telah memperkuat statusnya sebagai mitra dagang terbesar ketiga Myanmar di Asean.

Sebelumnya, juga telah dilaksanakan dialog yang menekankan pentingnya mengatasi kebutuhan ketahanan pangan seraya menjajaki peluang kerja sama yang lebih dalam di bidang perdagangan pertanian, pengolahan pangan, dan agribisnis.

“Dialog Meja Bundar”menandai langkah penting menuju peningkatan kerja sama bilateral di bidang perdagangan dan ekonomi. Acara ini dihadiri para pemimpin bisnis kedua negara, sekaligus menegaskan kembali komitmen kedua negara untuk membina hubungan ekonomi yang kuat, berfokus pada mendukung ekonomi kerakyatan Indonesia dan Myanmar serta memajukan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM).

Dikutip dari pernyataan pada Selasa (05/09/2023), diskusi meja bundar membahas seputar kerja sama perdagangan dan investasi menjanjikan di berbagai sektor, mulai dari Fast Moving Consumer Goods (FMCG), manufaktur garmen, dan kolaborasi dalam bidang energi.

Di samping itu, seiring tantangan yang dihadapi Indonesia dan Myanmar, dialog ini  turut mengemukakan  isu-isu terkait akses keuangan dan pembayaran perdagangan. Bahkan, hasil dialog menyebut jika kedua pihak berkomitmen untuk secara kolektif menjajaki strategi regional yang bertujuan menyempurnakan kerangka keuangan.

“Seiring dengan kemajuan Asean menjadi pusat pertumbuhan, kami mencoba memastikan tidak ada satupun yang tertinggal. Kami melihat banyaknya kerja sama antara Indonesia dan Myanmar di berbagai industry,” kata Arsjad.

Menurut data dari Observatory of Economic Complexity (OEC) pada 2021, ekspor Myanmar ke Indonesia bernilai US$ 171 juta, dengan mencakup produk-produk utama seperti kacang-kacangan kering (US$ 99,8 juta), tembaga halus (US$ 23,5 juta), dan timbal mentah (US$ 21,5 juta).

Sementara itu, ekspor Indonesia ke Myanmar mencapai US$ 1,2 miliar pada 2021, dipimpin oleh minyak sawit (US$ 827 juta), penganan panggang (US$ 39,8 juta) dan pupuk nitrogen (US$ 36,8 juta). Sedangkan, tingkat pertumbuhan tahunan ekspor Indonesia ke Myanmar meningkat pesat sebesar 12,2%, dari US$ 60,4 juta pada 1995 menjadi US$ 1,2 miliar pada 2021.

Menanggapi keterlibatan dan dukungan dalam "Dialog Meja Bundar", Ketua Asean-BAC Myanmar dan Presiden UMFCCI  Aye Win menyampaikan apresiasinya kepada KADIN.

“Stabilitas ekonomi adalah kunci, tidak hanya bagi Myanmar tetapi juga bagi Asean untuk menetapkan momentum integrasi regional,” tuturnya.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkini


Market 29 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia