Ketegangan di Gaza Membuat Pasar Minyak Global Gelisah
FRANKFURT, investor.id – Ketegangan akibat perang di Gaza digadang-gadang dapat membantu mempercepat perpindahan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Kondisi ini, kata Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), mirip dengan kenaikan tajam harga minyak selama 1970-an yang mendorong upaya-upaya penghematan bahan bakar.
“Hari ini kita kembali menghadapi krisis di Timur Tengah yang sekali lagi dapat mengguncang pasar minyak,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, saat diwawancarai Associated Press (AP) pada Selasa (24/10/2023).
Sebelumnya, pasar energi telah menghadapi tekanan akibat penghentian gas alam Rusia ke Eropa menyusul invasi Negeri Beruang Merah ke Ukraina.
“Gabungkan kedua hal itu, dan tidak ada yang dapat meyakinkan saya bahwa minyak dan gas adalah pilihan energi yang aman dan terjamin bagi negara-negara atau konsumen. Situasi ini dapat mempercepat transisi energi di seluruh dunia, mengingat sumber-sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari yang menawarkan solusi jangka panjang untuk masalah-masalah keamanan energi dan juga perubahan iklim,” demikian penjelasannya.
Sebagai informasi, serangan yang diluncurkan kelompok Hamas dan operasi militer Israel berikutnya telah meningkatkan kekhawatiran akan konflik Timur Tengah yang lebih luas.
Acuan harga minyak mentah Brent pada Selasa diperdagangkan pada US$ 90,17 per barel, atau naik dari sekitar US$ 84 saat serangan Hamas. Namun, sejauh ini pertempuran Israel-Hamas belum menyebabkan gangguan pasokan.
“Harga bahan bakar fosil turun dari puncaknya pada 2022, namun pasar sudah tegang dan bergejolak. Beberapa tekanan langsung dari krisis energi global telah mereda, tetapi pasar energi, geopolitik, dan ekonomi global masih belum stabil dan risiko gangguan lebih lanjut selalu ada," demikian dikutip dari laporan.
Birol menekankan ada respons besar dari pemerintah terhadap kekhawatiran pasokan energi yang muncul 50 tahun lalu akibat embargo minyak Arab yang diberlakukan selama perang Yom Kippur pada 1973.
Peristiwa itu membuat harga minyak naik hampir 300% dan mendorong pendirian IEA pada 1974 untuk membantu membentuk respons kolektif terhadap gangguan tersebut. Hal ini diikuti revolusi Iran pada 1978, yang menambah guncangan harga lainnya. Pada saat itu, solusinya termasuk peluncuran pembangkit listrik tenaga nuklir dan pemberlakuan standar jarak tempuh untuk mobil.
“Kali ini kita memiliki semua teknologi yang tersedia. Kita memiliki tenaga surya, angin, tenaga nuklir, dan mobil listrik. Teknologi-teknologi ini bakal meluas secara signifikan di seluruh dunia dan akan menjadi pendorong tambahan untuk transisi energi,” ungkap Birol
Birol mencontohkan peluncuran mobil listrik yang cepat, di mana pada 2020 baru ada satu dari 25 mobil yang menggunakan tenaga listrik, namun pada 2023 sudah bertambah menjadi satu dari lima mobil listrik.
“Sementara itu, pangsa bahan bakar fosil dalam pembangkit listrik telah turun dari 70% sepuluh tahun yang lalu menjadi 60% saat ini dan harus mencapai 40% pada 2030,” tuturnya.
Editor: Happy Amanda Amalia
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






