Sabtu, 4 April 2026

Ketegangan di Gaza Membuat Pasar Minyak Global Gelisah

Penulis : Happy Amanda Amalia
24 Okt 2023 | 20:14 WIB
BAGIKAN
Pemandangan matahari mulai terbenam di balik kilang minyak mentah dan sebuah pompa angguk pada 5 Juli 2022, di Midland, Texas. IEA merilis laporan prospek energi dunia tahunan, yang menganalisis gambaran global tentang pasokan dan permintaan energi, pada Selasa (24/10/2023). (Foto: Eli Hartman/Odessa American via AP, File)
Pemandangan matahari mulai terbenam di balik kilang minyak mentah dan sebuah pompa angguk pada 5 Juli 2022, di Midland, Texas. IEA merilis laporan prospek energi dunia tahunan, yang menganalisis gambaran global tentang pasokan dan permintaan energi, pada Selasa (24/10/2023). (Foto: Eli Hartman/Odessa American via AP, File)

FRANKFURT, investor.id – Ketegangan akibat perang di Gaza digadang-gadang dapat membantu mempercepat perpindahan dari bahan bakar fosil ke energi terbarukan. Kondisi ini, kata Badan Energi Internasional atau International Energy Agency (IEA), mirip dengan kenaikan tajam harga minyak selama 1970-an yang mendorong upaya-upaya penghematan bahan bakar.

“Hari ini kita kembali menghadapi krisis di Timur Tengah yang sekali lagi dapat mengguncang pasar minyak,” kata Direktur Eksekutif IEA Fatih Birol, saat diwawancarai Associated Press (AP) pada Selasa (24/10/2023).

Sebelumnya, pasar energi telah menghadapi tekanan akibat penghentian gas alam Rusia ke Eropa menyusul invasi Negeri Beruang Merah ke Ukraina.

“Gabungkan kedua hal itu, dan tidak ada yang dapat meyakinkan saya bahwa minyak dan gas adalah pilihan energi yang aman dan terjamin bagi negara-negara atau konsumen. Situasi ini dapat mempercepat transisi energi di seluruh dunia, mengingat sumber-sumber energi terbarukan seperti angin dan matahari yang menawarkan solusi jangka panjang untuk masalah-masalah keamanan energi dan juga perubahan iklim,” demikian penjelasannya.

Advertisement

Sebagai informasi, serangan yang diluncurkan kelompok Hamas dan operasi militer Israel berikutnya telah meningkatkan kekhawatiran akan konflik Timur Tengah yang lebih luas.

Acuan harga minyak mentah Brent pada Selasa diperdagangkan pada US$ 90,17 per barel, atau naik dari sekitar US$ 84 saat serangan Hamas. Namun, sejauh ini pertempuran Israel-Hamas belum menyebabkan gangguan pasokan.

“Harga bahan bakar fosil turun dari puncaknya pada 2022, namun pasar sudah tegang dan bergejolak. Beberapa tekanan langsung dari krisis energi global telah mereda, tetapi pasar energi, geopolitik, dan ekonomi global masih belum stabil dan risiko gangguan lebih lanjut selalu ada," demikian dikutip dari laporan.

Birol menekankan ada respons besar dari pemerintah terhadap kekhawatiran pasokan energi yang muncul 50 tahun lalu akibat embargo minyak Arab yang diberlakukan selama perang Yom Kippur pada 1973.

Peristiwa itu membuat harga minyak naik hampir 300% dan mendorong pendirian IEA pada 1974 untuk membantu membentuk respons kolektif terhadap gangguan tersebut. Hal ini diikuti revolusi Iran pada 1978, yang menambah guncangan harga lainnya. Pada saat itu, solusinya termasuk peluncuran pembangkit listrik tenaga nuklir dan pemberlakuan standar jarak tempuh untuk mobil.

“Kali ini kita memiliki semua teknologi yang tersedia. Kita memiliki tenaga surya, angin, tenaga nuklir, dan mobil listrik. Teknologi-teknologi ini bakal meluas secara signifikan di seluruh dunia dan akan menjadi pendorong tambahan untuk transisi energi,” ungkap Birol

Birol mencontohkan peluncuran mobil listrik yang cepat, di mana pada 2020 baru ada satu dari 25 mobil yang menggunakan tenaga listrik, namun pada 2023 sudah bertambah menjadi satu dari lima mobil listrik.

“Sementara itu, pangsa bahan bakar fosil dalam pembangkit listrik telah turun dari 70% sepuluh tahun yang lalu menjadi 60% saat ini dan harus mencapai 40% pada 2030,” tuturnya.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 5 menit yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 16 menit yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 25 menit yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 1 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 1 jam yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 2 jam yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia