Kamis, 14 Mei 2026

The Fed Akan Hati-hati Menyeimbangkan Inflasi dan Pertumbuhan

Penulis : Happy Amanda Amalia
21 Nov 2023 | 22:26 WIB
BAGIKAN
Gubernur The Fed Jerome Powell. (Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein)
Gubernur The Fed Jerome Powell. (Foto: AP Photo/Mark Schiefelbein)

WASHINGTON, investor.id – Gubernur The Federal Reserve (The Fed) Jerome Powell secara terang-terangan menggunakan kata "hati-hati". Hal ini diungkapkan dalam konferensi pers ketika menjelaskan upaya bank sentral Amerika Serikat (AS) untuk menyeimbangkan risiko inflasi yang masih tinggi dan lonjakan pertumbuhan ekonomi mengejutkan, dengan pengetatan kondisi kredit dan keyakinan The Fed bahwa ekonomi sedang berada di titik puncak perlambatan.

Sementara risalah pertemuan 31 Oktober-1 November 2023, yang dirilis pada Selasa (21/11/2023) pukul 19.00 waktu setempat atau Rabu (22/11/2023) dini hari, diperkirakan menekankan bahwa para pembuat kebijakan moneter AS telah bersatu. Mereka tampaknya tidak mungkin menaikkan target suku bunga lebih lanjut, namun tidak ingin mengatakannya, sedangkan inflasi masih jauh di atas target 2% bank sentral.

"Inflasi telah membuat kita sedikit bingung. Jika memang perlu mengetatkan kebijakan lebih lanjut, kami tidak akan ragu-ragu untuk melakukannya. Bagaimana pun juga, kami bakal terus bergerak dengan hati-hati, yang memungkinkan kami mengatasi risiko disesatkan oleh beberapa bulan data yang bagus, dan risiko pengetatan yang berlebihan,” ujar Powell dalam konferensi riset Dana Moneter Internasional (IMF) awal bulan ini, yang dilansir Reuters pada Selasa.

ADVERTISEMENT

Di sisi lain, ada perasaan bahwa The Fed mungkin melakukan hal yang tidak terduga dengan mengarah keluar dari lonjakan inflasi terburuk dalam 40 tahun terakhir tanpa menyebabkan kerusakan besar pada perekonomian.

Menurut studi staf Fed New York yang dirilis pada Selasa – sebagai hasil dari model umum ekonomi yang besar – keterlambatan bank sentral AS dalam menaikkan suku bunga, dengan kenaikan pertama terjadi setahun setelah harga-harga mulai meningkat tajam, telah memungkinkan ekonomi mencatatkan lebih banyak pertumbuhan dengan progres yang sama dalam menurunkan inflasi dibandingkan dengan yang terjadi jika kenaikan suku bunga dimulai lebih cepat.

Awal yang tertunda telah memaksa The Fed untuk menaikkan suku bunga lebih cepat dan lebih tinggi dari yang seharusnya. Tetapi dampak bersihnya positif, karena dorongan awal yang terkait dengan mempertahankan federal funds rate (FFR) mendekati nol pada 2021.

Tingkat inflasi tidak berbeda secara signifikan dengan apa yang akan dicapai melalui awal kenaikan suku bunga yang lebih awal. Namun, hanya sedikit keinginan di antara para pembuat kebijakan untuk menyatakan kemenangan pada saat ini, atau memberikan petunjuk langsung kepada para investor tentang apa yang bakal terjadi selanjutnya.

Alhasil, dikatakan oleh analis Citi, risalah tersebut kemungkinan mencakup retorika hawkish dangkal bahwa suku bunga masih mungkin bergerak lebih tinggi.

“Namun, kami terus berpikir bahwa para pejabat Fed kemungkinan besar sudah selesai menaikkan suku bunga dalam siklus ini,” demikian isi pratinjau rilis pada Minggu (19/11/2023).

Demikian halnya dengan pemikiran sebagian besar investor, kontrak-kontrak yang terkait dengan FFR semalam menunjukkan probabilitas mendekati nol bahwa The Fed akan bergerak di luar kisaran 5,25%-5,50% saat ini. Sementara itu, FedWatch Tool dari CME Group menempatkan peluang penurunan suku bunga sekitar 57% di pertemuan kebijakan The Fed pada 30 April-1 Mei 2024.

Isi risalah, seperti halnya para pembuat kebijakan The Fed saat ini, tidak akan membahas hal tersebut. Pasalnya, para pejabat berkeras masih belum yakin bahwa suku bunga kebijakan cukup ketat untuk menyelesaikan perang melawan inflasi.

Tetapi, pernyataan terbuka mereka sudah mulai lebih fokus soal berapa lama kemungkinan suku bunga perlu bertahan pada level saat ini dan kurang tentang seberapa tinggi mereka mungkin perlu naik.

“Inflasi tampaknya mulai mereda. Tapi saya  juga merasa inflasi akan tetap ‘keras kepala,’ dan hal ini membuat saya yakin bahwa suku bunga akan naik lebih lama lagi,” kata Presiden Fed Richmond Thomas Barkin kepada Fox Business, Senin.

Editor: Happy Amanda Amalia

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 27 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 57 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia