Kamis, 14 Mei 2026

PBB Ungkap 4.000 Spesies Terdampak Perdagangan Ilegal di Seluruh Dunia

Penulis : Grace El Dora
16 Mei 2024 | 15:02 WIB
BAGIKAN
Petugas bea cukai Thailand telah menangkap enam warga India karena berupaya menyelundupkan seekor panda merah dan 86 ekor hewan lainnya ke luar kerajaan. (Foto: Departemen Bea Cukai Thailand/AFP/Handout)
Petugas bea cukai Thailand telah menangkap enam warga India karena berupaya menyelundupkan seekor panda merah dan 86 ekor hewan lainnya ke luar kerajaan. (Foto: Departemen Bea Cukai Thailand/AFP/Handout)

WINA, investor.id – Perdagangan satwa liar belum berkurang secara signifikan dalam dua dekade terakhir, meskipun terdapat tanda-tanda positif dalam penurunan perdagangan spesies ikonik seperti gajah dan badak. Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Narkoba dan Kejahatan atau UNODC baru-baru ini mengungkapkan data terbaru di Wina, Austria.

“Cakupan dan skala global kejahatan terhadap satwa liar tetap besa, dengan penyitaan selama 2015-2021 yang menunjukkan adanya perdagangan ilegal di 162 negara dan wilayah yang berdampak pada sekitar 4.000 spesies tumbuhan dan hewan,” ungkap Laporan Kejahatan Satwa Liar Dunia edisi ketiga UNODC dalam laporan Senin (13/5/2024), seperti dikutip pada Kamis (16/5/2024).

Selama enam tahun, sekitar 13 juta individu hewan dan tumbuhan telah disita yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai makanan, obat-obatan, bahkan barang mewah. Lebih dari 16.000 ton barang terlarang seperti kayu, juga telah disita, kata laporan itu.

ADVERTISEMENT

UNODC menekankan, angka sebenarnya bahkan jauh lebih tinggi.

Kantor PBB itu menambahkan, selain ancaman konservasi terhadap spesies sasaran, pengurangan populasi juga dapat memicu dampak pada tingkat ekosistem dengan mengganggu saling ketergantungan dan melemahkan fungsi dan proses.

“Termasuk hal-hal yang penting bagi ketahanan dan mitigasi perubahan iklim,” kata mereka.

Badan itu mencatat beberapa spesies terkena dampak paling buruk, di antaranya anggrek langka, sukulen, reptil, ikan, burung, dan mamalia. Namun spesies ini hanya mendapat sedikit perhatian publik, meskipun perdagangan satwa liar memainkan peran besar dalam kepunahan spesies tersebut secara lokal ataupun global.

“Kejahatan terhadap satwa liar juga mengancam manfaat sosio-ekonomi yang diperoleh manusia dari alam. Baik sebagai sumber pendapatan, pekerjaan, makanan, obat-obatan, atau nilai-nilai lainnya. Kejahatan ini semakin merusak tata kelola yang baik dan supremasi hukum melalui korupsi, pencucian uang, dan aliran dana gelap," jelas agensi tersebut.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 29 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 40 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia