PBB Ungkap 4.000 Spesies Terdampak Perdagangan Ilegal di Seluruh Dunia
WINA, investor.id – Perdagangan satwa liar belum berkurang secara signifikan dalam dua dekade terakhir, meskipun terdapat tanda-tanda positif dalam penurunan perdagangan spesies ikonik seperti gajah dan badak. Kantor Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk Narkoba dan Kejahatan atau UNODC baru-baru ini mengungkapkan data terbaru di Wina, Austria.
“Cakupan dan skala global kejahatan terhadap satwa liar tetap besa, dengan penyitaan selama 2015-2021 yang menunjukkan adanya perdagangan ilegal di 162 negara dan wilayah yang berdampak pada sekitar 4.000 spesies tumbuhan dan hewan,” ungkap Laporan Kejahatan Satwa Liar Dunia edisi ketiga UNODC dalam laporan Senin (13/5/2024), seperti dikutip pada Kamis (16/5/2024).
Selama enam tahun, sekitar 13 juta individu hewan dan tumbuhan telah disita yang dimaksudkan untuk digunakan sebagai makanan, obat-obatan, bahkan barang mewah. Lebih dari 16.000 ton barang terlarang seperti kayu, juga telah disita, kata laporan itu.
UNODC menekankan, angka sebenarnya bahkan jauh lebih tinggi.
Kantor PBB itu menambahkan, selain ancaman konservasi terhadap spesies sasaran, pengurangan populasi juga dapat memicu dampak pada tingkat ekosistem dengan mengganggu saling ketergantungan dan melemahkan fungsi dan proses.
“Termasuk hal-hal yang penting bagi ketahanan dan mitigasi perubahan iklim,” kata mereka.
Badan itu mencatat beberapa spesies terkena dampak paling buruk, di antaranya anggrek langka, sukulen, reptil, ikan, burung, dan mamalia. Namun spesies ini hanya mendapat sedikit perhatian publik, meskipun perdagangan satwa liar memainkan peran besar dalam kepunahan spesies tersebut secara lokal ataupun global.
“Kejahatan terhadap satwa liar juga mengancam manfaat sosio-ekonomi yang diperoleh manusia dari alam. Baik sebagai sumber pendapatan, pekerjaan, makanan, obat-obatan, atau nilai-nilai lainnya. Kejahatan ini semakin merusak tata kelola yang baik dan supremasi hukum melalui korupsi, pencucian uang, dan aliran dana gelap," jelas agensi tersebut.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler


