Jumat, 15 Mei 2026

Laporan Inflasi AS Akan Jadi Petunjuk Dampak Tarif Trump

Penulis : Grace El Dora
15 Jul 2025 | 10:06 WIB
BAGIKAN
Sebuah truk bermuatan produk pertanian dari Meksiko dan Kanada melewati Pharr, Texas, Amerika Serikat (AS) pada 4 Maret 2025. (Foto: AP/ Eric Gay)
Sebuah truk bermuatan produk pertanian dari Meksiko dan Kanada melewati Pharr, Texas, Amerika Serikat (AS) pada 4 Maret 2025. (Foto: AP/ Eric Gay)

Angka-angka tersebut umumnya diperkirakan akan berbalik, meskipun para ekonom Goldman Sachs khususnya berpendapat kendaraan bekas mungkin masih mengalami penurunan berdasarkan tren lelang mobil baru-baru ini. Goldman memperkirakan kenaikan di bawah konsensus sebesar 0,2% dalam CPI inti untuk Juni 2025. Pejabat The Fed percaya CPI inti memberikan panduan yang lebih baik untuk tren inflasi jangka panjang.

Secara umum, para ekonom akan melihat tren barang inti sebagai barometer terbaik untuk dampak tarif. Kategori ini mencakup barang-barang seperti pakaian jadi dan alas kaki, elektronik, barang-barang perumahan, dan furnitur.

Goldman memperkirakan kenaikan asuransi mobil dan tarif pesawat, sedangkan kontribusi umum dari tarif Trump sekitar 0,08 poin persentase terhadap pembacaan inti. Sektor-sektor yang terdampak tarif seperti furnitur, rekreasi, pendidikan, komunikasi, dan perawatan pribadi dapat mengalami penurunan harga, kata perusahaan itu.

ADVERTISEMENT

Para ekonom juga akan mencermati harga rumah, yang selama ini menjadi komponen yang terus-menerus mempertahankan angka inflasi yang lebih tinggi. “Prakiraan kami mencerminkan akselerasi tajam di sebagian besar kategori barang inti, tetapi dampaknya terbatas pada inflasi jasa inti, setidaknya dalam jangka pendek,” kata Goldman dalam catatan resminya.

Pemerintah AS juga akan mencermati laporan tersebut. Presiden Trump dan pejabat pemerintahan lainnya telah menekan The Fed untuk menurunkan suku bunga, sementara angka inflasi yang lebih tinggi dari perkiraan dapat menyebabkan para bankir sentral semakin teguh dalam pelonggaran kebijakan.

“The Fed ingin memastikan ekspektasi jangka panjang tidak menjadi tidak stabil, dan saya pikir The Fed harus melihat puncak inflasi yang disebabkan oleh tarif sebelum mereka merasa nyaman untuk memangkas suku bunga. Saat ini kita berada di masa di mana memecah (laporan inflasi) menjadi komponen-komponen individual menjadi lebih berguna dan lebih penting daripada sebelumnya,” jelas Hodge selaku ekonom Natixis.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 5 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 5 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 6 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia