AS Galang Kekuatan Militer di Timur Tengah di Tengah Ketegangan dengan Iran
MOSKOW, investor.id – Di tengah ketegangan dengan Iran, Amerika Serikat (AS) telah menghimpun kekuatan militer di Timur Tengah yang mencakup 16 kapal perang dengan total 40.000 personel serta tujuh skuadron udara yang masing-masing terdiri dari 70 pesawat tempur.
Menurut laporan Financial Times, Amerika Serikat sudah menempatkan lima skuadron udara pada pangkalan-pangkalan militernya di Yordania, Kuwait, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab. Skuadron udara tersebut masing-masing memiliki 70 pesawat tempur.
Sementara itu, tambahan dua skuadron udara lainnya berbasis di kapal-kapal induk USS Abraham Lincoln dan USS Gerald R. Ford, demikian menurut laporan tersebut seperti dikutip Sputnik, Senin (23/2/2026).
Mengutip data dari Universitas Tel Aviv, Financial Times melaporkan di Pangkalan Militer Muwaffaq Salti, Yordania, sudah terdapat 66 jet tempur AS yang terdiri dari antara lain 18 jet tempur F-35 dan 17 unit jet tempur F-15.
Kemudian, AS mengirimkan delapan unit pesawat A-10, pesawat peperangan elektronik EA-18, dan pesawat pengangkut.
Data satelit juga menunjukkan adanya peningkatan jumlah jet tempur AS yang ditempatkan pada pangkalan militernya di Arab Saudi.
Sebelumnya, Presiden AS Donald Trump mengatakan sebuah armada besar tengah berlayar ke Iran, sembari mengharapkan Iran setuju merundingkan kesepakatan yang adil dan mencakup penghapusan total senjata nuklir.
Sementara, pada 8 Februari, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menegaskan Iran harus tetap memiliki haknya memperkaya uranium, bahkan jika hal tersebut harus berujung pada perang.
Hubungan antara AS dan Iran terus berada dalam titik nadir sejak Amerika Serikat secara sepihak menarik diri dari perjanjian nuklir Joint Comprehensive Plan of Action (JCPOA) pada 2018. Langkah tersebut diikuti dengan penerapan kembali sanksi ekonomi berat yang melumpuhkan sektor minyak Iran.
Sebagai respons, Iran secara bertahap mulai mengabaikan batasan-batasan pengayaan uranium yang ditetapkan dalam perjanjian tersebut. Iran menegaskan program nuklirnya murni untuk tujuan damai, namun AS dan sekutunya khawatir hal itu merupakan kedok untuk mengembangkan senjata nuklir.
Pengerahan kekuatan militer besar-besaran oleh Pentagon saat ini dipandang sebagai strategi maximum pressure atau tekanan maksimal untuk memaksa Iran kembali ke meja perundingan.
Di sisi lain, kehadiran armada tempur AS di perairan strategis seperti Selat Hormuz meningkatkan risiko gesekan fisik yang dapat memicu konflik terbuka di kawasan yang krusial bagi pasokan energi global tersebut.
Editor: Grace El Dora
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read Now






