Jumat, 15 Mei 2026

Bergegas Menuju Indonesia Emas 2045

Penulis : Hari Gunarto / Tri Listyarini / Thomas Harefa
26 Jun 2023 | 09:00 WIB
BAGIKAN
Kota Jakarta, pusat ekonomi Indonesia. (Pixabay)
Kota Jakarta, pusat ekonomi Indonesia. (Pixabay)

JAKARTA, investor.id – Indonesia akan punya julukan mentereng di tahun 2045: sebagai negara maju, negara super kaya dengan pendapatan tinggi. Targetnya ambisius, sebesar US$ 30.300 per kapita, atau 6,3 kali lipat dari posisi saat ini sebesar US$ 4.784. Kalangan pengusaha dan ekonom meyakini target mewujudkan “Visi Indonesia Emas 2045” tersebut bisa diraih meski sangat berat, namun dengan segunung prasyarat dan kerja ekstra keras.

Dalam Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2025-2045 untuk menuju Indonesia Emas 2045, pemerintah mematok target Produk Domestik Bruto (PDB) di posisi terbesar ke-5 dunia, PDB per kapita US$ 30.300, kontribusi sektor maritim terhadap PDB 17,5%, serta kontribusi industri pengolahan 28% PDB.

Selain itu, kemiskinan digiring ke 0,5-0,8%, rasio Gini 0,290-0,320, serta ketimpangan antar wilayah menyempit, dengan PDRB Kawasan Timur Indonesia (KTI) 26%. Daya saing SDM meningkat dengan skor Human Capital Index 0,73. Pemerintah juga menetapkan 8 Agenda Pembangunan.

ADVERTISEMENT

Kepala Ekonom Bank Mandiri Andry Asmoro berpendapat, untuk menggapai pendapatan per kapita US$ 30.300, Indonesia harus berupaya ekstra keras agar mampu tumbuh US$ 1.200 per tahun atau pertumbuhan ekonomi minimal 6% per tahun selama periode 2024-2045. Itu berarti di atas rata-rata pertumbuhan PDB/kapita Asean saat ini.

Bergegas Menuju Indonesia Emas 2045

Dia mengilustrasikan lambannya pergerakan pendapatan per kapita Indonesia dalam dua dekade ini. Data historis selama 20 tahun terakhir (2002 – 2022) menunjukkan, rata-rata peningkatan PDB/kapita Indonesia hanya US$ 0,18 ribu setahun atau masih di belakang rata-rata peningkatan PDB/kapita Thailand, Vietnam, Malaysia, dan Singapura yang bisa mencapai US$ 2,65 ribu per tahun. “Rata-rata peningkatan PDB/kapita per tahun di Asean selama 20 tahun terakhir mencapai US$ 1,12 ribu per tahun,” ujar Andry.

Jika ditarik lebih singkat lagi, yaitu kurun waktu 2012-2022, PDB/kapita Indonesia cuma tumbuh sebesar US$ 1.100 ke US$ 4.800. “Data-data historis tersebut menunjukkan bahwa perlu upaya yang sangat keras untuk meningkatkan PDB/kapita Indonesia lebih dari 6 kali lipat dibandingkan posisi saat ini dalam 22 tahun ke depan,” tegasnya.

Meski amat berat, Andry yakin target-target tersebut dapat dicapai dengan sinergi kuat dan upaya bersama dari seluruh komponen pemerintahan dan swasta, dari tingkat pusat maupun daerah. Dalam konteks itu, setidaknya butuh empat konsistensi selama 20 tahun ke depan sebagai prasyarat.

Pertama, konsistensi membenahi permasalahan institusi terutama dalam hal keseragaman terkait peningkatan daya saing investasi. Peningkatan PDB per kapita dan pemangkasan kemiskinan membutuhkan masuknya investasi swasta, baik dalam negeri (PMDN) dan luar negeri (PMA). Mereka membutuhkan kepastian usaha untuk bisa berinvestasi di seluruh wilayah Indonesia agar bisa menyerap tenaga kerja Indonesia lebih besar lagi. “Momentum Pemilu Nasional dan Daerah di 2024 mestinya menjadi tonggak agar seluruh institusi pemerintahan mendorong daya saing ini,” ujar Andry.

Bergegas Menuju Indonesia Emas 2045

Kedua, konsistensi dalam meningkatkan daya saing sumber daya manusia (SDM) dari akses sisi pendidikan dan kesehatan. Peningkatan kualitas pendidikan dan kesehatan menjadi sangat urgen karena sudah menjadi target sejak lama.

Ketiga, lanjut Andry, konsistensi dalam mengembangkan infrastruktur untuk mendorong industrialisasi (industri  manufaktur) maupun hilirisasi sektor pertambangan, perikanan, dan pertanian. Pemerintah sudah banyak membangun akses dalam 10 tahun terakhir. “Pengembangan konektivitas ke sentra industri baru dan lama menjadi penting di tengah persaingan dengan negara-negara Asean lain untuk mendapatkan investasi di sektor industri manufaktur. Pembangunan infrastruktur ini termasuk infrastruktur digital,” kata dia.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 9 menit yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 7 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 8 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia