Gubernur BI Tekankan Bauran Kebijakan Hadapi Gejolak Ekonomian Global
JAKARTA, investor.id – Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyatakan, pada 2023 dan 2024 nanti tetap akan menjalankan bauran kebijakan (policy mix) untuk menjaga geliat perekonomian nasional. Kebijakan moneter dijalankan dengan stance pro stabilitas sedangkan kebijakan makroprudensial untuk stance pro pertumbuhan ekonomi.
“Kami memiliki kerangka dasar kerangka penargetan inflasi tetapi kami juga menangani masalah arus modal serta stabilitas sistem keuangan,” ucap Perry saat membuka Ceremony ASEAN Fest 2023 di Jakarta pada Selasa (22/08/2023).
Menurut Perry, BI juga melakukan koordinasi kebijakan dengan pemerintah melalui Kebijakan Fiskal dan Reformasi Struktural dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan (KSSK). Terlebih, pada saat ini, negara menghadapi trilema saat menjalankan kebijakan yaitu gejolak perekonomian global, stabilitas harga, pertumbuhan ekonomi.
Perry menuturkan beberapa, negara hanya menggunakan satu kebijakan saat menghadapi gejolak perekonomian global. Misalnya Bank Sentral Amerika Serikat yang hanya menggunakan kebijakan suku bunga acuan untuk menurunkan inflasi. “Tetapi kami juga menggunakan kebijakan fiskal, makroprudensial dan moneter ,” tutur dia.
Perry mengatakan, BI menjalankan kebijakan penanganan inflasi sekaligus menjaga nilai tukar. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik inflasi tahunan pada Juli 2023 sebesar 3,08%. angka ini menurun dari posisi inflasi Juni 2023 sebesar 3,52%.
“Inilah yang kami lakukan. Dan beberapa aspek yang kita perlukan untuk arus modal, tetapi Indonesia menahan diri untuk tidak menggunakan manajemen arus modal. Inilah kebijakan moneter dan ekonomi terbuka ASEAN,” kata Perry.
Perry menambahkan, BI turut menjalankan langkah countercyclical melalui kebijakan makroprudensial. Ketika kondisi pinjaman terlalu tinggi, BI melakukan countercyclical. Namun, tetap menjaga stabilitas dan inklusi sistem keuangan.
“Ini yang kami lakukan di Indonesia. Makanya mulai tahun ini dan tahun depan kebijakan kita membuat moneter pro-stabilitas. Mengatasi inflasi, stabilitas nilai tukar, pro-stabilitas menggunakan komplemen suku bunga dengan kebijakan nilai tukar,” pungkas Perry.(ark)
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






