BI Proyeksi The Fed Naikkan Suku Bunga Acuan Dua Kali Lagi
JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) memproyeksikan Bank Sentral Amerika Serikat (Federal Reserve/The Fed) akan menaikan suku bunga acuan dua kali lagi hingga akhir 2023. Langkah Federal Reserve ini sebagai salah satu upaya untuk menurunkan inflasi di Amerika Serikat (AS).
”Kami pikir akan selesai tetapi masih akan satu atau dua kali lagi (ada kenaikan suku bunga acuan The Fed),” ucap Gubernur BI Perry Warjiyo dalam acara Ceremony ASEAN Fest 2023 di Jakarta pada Selasa (22/8/2023).
Tingkat inflasi di AS sebesar 3,2% pada Juli 2023 atau naik tipis dari posisi Juni 2023 yang sebesar 3%. Sementara itu, The Fedsudah menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bp) ke posisi 5,25-5,50% pada Juli 2023 . Sementara itu tingkat pengangguran AS juga turun ke 3,5% pada Juli 2023.
"AS berjuang hanya dengan menggunakan satu suku bunga untuk melawan inflasi. Butuh waktu sangat lama dan sekarang resesi," kata Perry.
Di sisi lain, Rektor Universitas Indonesia (UI) Ari Kuncoro mengatakan, saat terjadi tingkat penurunan tingkat pengangguran di Amerika Serikat maka terjadi kenaikan peningkatan kesempatan kerja. Peningkatan ini akan memberikan efek domino terhadap kenaikan tingkat kesejahteraan masyarakat khususnya melalui pendapatan. Namun hal ini juga harus diwaspadai pengaruhnya terhadap geliat inflasi.
“Argumennya ini pasar tenaga kerja masih ketat, sehingga kesempatan kerja yang naik bisa menimbulkan potensi inflasi di masa depan. Sehingga The Fed sebagian besar masih berpendapat masih diperlukan kenaikan suku bunga,” papar Ari Kuncoro.
Ari menuturkan, BI tentu akan melihat tingkat kompetitif kebijakan suku bunga acuan yang saat ini masih di angka 5,75%. Dengan ketidakpastian perekonomian global, BI dinilai masih berada dalam kondisi untuk mempertahankan suku bunga acuan. BI bisa mengoptimalkan instrumen giro wajib minimum dalam menjaga arus modal di pasar keuangan domestik.
“Jadi tidak perlu menaikan suku bunga. Karena kalau menaikan suku bunga bisa berakibat pada sektor-sektor berorientasi ekspor. Mereka butuh modal kerja, jadi keseimbangannya penting dijaga,” tutur Ari.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler






