Jumat, 15 Mei 2026

Kemenkeu: Butuh Insentif Khusus Agar Negara Berkembang Mau Terlibat Dalam Transisi Energi

Penulis : Arnoldus Kristianus
29 Mei 2024 | 23:04 WIB
BAGIKAN
Filantropi Islam Berpotensi Biayai Solusi Perubahan Iklim
Filantropi Islam Berpotensi Biayai Solusi Perubahan Iklim

BOGOR,investor.id - Kementerian Keuangan (Kemenkeu) menilai upaya menjalankan transisi energi harus dilakukan secara sinergis oleh seluruh negara. Dalam hal ini diperlukan insentif agar negara berkembang bisa berperan lebih optimal untuk menjalankan transisi energi dan mengantisipasi dampak perubahan iklim.

“Paling tidak mengharapkan insentif bagi negara berkembang untuk bisa berkomitmen mewujudkan pengurangan komisi yang sama-sama dinikmati secara global,” ucap Direktur Pinjaman dan Hibah Direktorat Jenderal Pengelolaan dan Pembiayaan Risiko Kementerian Keuangan Dian Lestari dalam media briefing di Hotel Rancamaya, Bogor pada Rabu (29/5/2024).

Bila pemanasan global tidak diantisipasi maka akan memberikan efek domino ke perekonomian. Oleh karena itu upaya mengantisipasi perubahan iklim harus dilakukan secara kolektif oleh semua negara. Apalagi upaya menjalankan hal tersebut membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Dia menuturkan insentif diberikan agar negara-negar mau merelakan pembiayaan atas kesempatan yang hilang (opportunity cost) karena adanya adaptasi untuk pembangunan yang ramah lingkungan. Khususnya untuk menuju energi baru terbarukan.

ADVERTISEMENT

“Ada kebutuhan teknologi yang lebih mahal ada kebutuhan investasi yang  sangat besar belum lagi dampak transisi ke makro perlu dikompensasi. Ini diharapkan adanya insentif yang terlihat dari berbagai instrumen pembiayaan yang diberikan internasional apakah melalui kerjasama pembiayaan bilateral, apakah melalui pembiayaan multilateral,” kata Dian.

Dian mengatakan perlu upaya lebih agar perusahaan mau menggunakan instrumen yang berbasis ekonomi hijau dari yang sebelumnya menggunakan instrumen konvensional.

“Dari sisi maturity atau dari sisi kita berbicara memobilisasi dari sisi private. Nanti dikaitkan dengan green sukuk dan green bonds. Sebenarnya butuh effort lebih untuk perusahaan, entitas, bahkan negara mau switching dari instrumen konvensional ke green instrument,” terang Dian.

Menurut dia, upaya menggunakan instrument hijau karena pengawasannya masih sangat ketat. Terutama negara-negara dari Eropa yang sangat menghindari green instrument karena mengantisipasi terjadinya praktik greenwashing. Dimana ada satu proyek yang dijalankan dengan strategi pemasaran atau komunikasi untuk membuat sesuatu tampak berkelanjutan (sustainable) padahal tidak digunakan sepenuhnya untuk proyek ramah lingkungan.

“Instrumen yang benar-benar punya integritas, instrumen yang betul-betul tidak sekedar greenwashing  itu additional  cost, ini butuh insentif agar perusahaan mau switching dari instrumen konvensional ke green instrumen karena efeknya lebih. Tetapi efeknya adalah harga yang lebih rendah yang seharusnya bisa diharapkan pada saat itu tidak semata-mata berbicara mengenai instrumen yang menghasilkan profit tetapi instrumen juga berkontribusi ke  agenda global,” kata Dian.


 

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 4 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 4 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 4 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 5 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 5 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 6 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia