Jumat, 15 Mei 2026

Naik 8,6%, Pembayaran Bunga Utang Sentuh Rp 599,4 Triliun pada 2026

Penulis : Arnoldus Kristianus
17 Aug 2025 | 08:31 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi utang. (Pixabay)
Ilustrasi utang. (Pixabay)

JAKARTA,investor.id – Pemerintah memproyeksikan pembayaran bunga utang senilai  Rp 599,4 triliun dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2026.  Jumlah tersebut terdiri atas pembayaran bunga utang dalam negeri sebesar Rp 538,7 triliun dan pembayaran bunga utang luar negeri sebesar Rp 60,73 triliun.

Beban bunga utang ini meningkat 8,6% dari outlook pembayaran bunga utang pada tahun anggaran 2025 yang sebesar Rp 552,1 triliun. Dalam menjalankan strategi pembiayaan pemerintah memperhatikan biaya utang dan tingkat risiko agar tidak membebani fiskal, baik dalam jangka pendek maupun panjang.

“Pemerintah berkomitmen untuk menjaga pembayaran bunga utang pada level yang efisien dan terkendali melalui kebijakan pengelolaan utang yang prudent, terukur, dan berbasis manajemen risiko,” dikutip dari  buku II Nota Keuangan beserta RAPBN Tahun Anggaran 2026 pada Sabtu (16/8/2025).

ADVERTISEMENT

Untuk menjaga beban bunga tetap terkendali, pemerintah mengutamakan sumber pembiayaan yang efisien dan mengoptimalkan struktur portofolio utang, baik dari sisi tenor maupun jenis instrumen, guna menekan volatilitas biaya utang akibat perubahan suku bunga pasar.

Pemerintah juga berkomitmen mengendalikan belanja bunga utang melalui kebijakan disiplin fiskal yang didukung dengan upaya meningkatkan penerimaan negara secara berkelanjutan.

Pemerintah akan menjalankan tiga langkah dalam memenuhi kewajiban pembayaran bunga utang di tahun 2026. Pertama yaitu memenuhi pembayaran bunga utang secara tepat waktu dan tepat jumlah untuk menjaga kredibilitas pengelolaan utang.

Kedua yaitu mendorong efisiensi bunga utang melalui pengelolaan portofolio yang optimal serta penerbitan utang secara fleksibel dan oportunistis dari sisi size, timing, tenor, mata uang dan instrumen. Ketiga yaitu mendorong pengembangan dan pendalaman pasar SBN untuk menciptakan pasar surat berharga negara (SBN) yang dalam, aktif, dan likuid.

Editor: Arnoldus Kristianus

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 45 menit yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 46 menit yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 8 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 8 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia