Transfer Ke Daerah Dipangkas, CSIS: Kinerja Belanja Negara Makin Tersentralisasi
JAKARTA,investor.id – Kebijakan belanja negara pada tahun 2026 dinilai lebih tersentralisasi dimana porsi belanja pemerintah pusat meningkat pesat sementara porsi transfer ke daerah dipangkas menjadi lebih rendah dari tahun sebelumnya.
Dalam rancangan anggaran pendapatan dan belanja negara (RAPBN) 2026 pemerintah menetapkan target belanja negara sebesar Rp 3,786,5 triliun atau tumbuh 7,3% dari outlook belanja tahun 2025. Belanja pemerintah pusat ditargetkan sebesar Rp 3.136,5 triliun atau tumbuh 17,5% dari outlook tahun 2025. Sementara itu alokasi transfer ke daerah sebesar Rp 650 triliun atau terkontraksi 24,8% dari outlook tahun 2025.
“Belanja negara menjadi lebih tersentralisasi dimana porsi belanja pemerintah pusat meningkat 17,8%, sedangkan transfer ke daerah malah turun sebesar minus 24,8%,” ucap Peneliti Senior Departemen Ekonomi Centre for Strategic and International Studies (CSIS) Deni Friawan dalam media briefing di Jakarta pada Senin (18/8/2025).
Deni mengatakan dengan adanya pengurangan porsi transfer ke daerah tersebut seolah peran pemerintah pusat akan menjadi lebih besar dalam belanja negara. Dengan kata lain program-program yang memakan anggaran dalam jumlah tinggi akan dikelola oleh pemerintah pusat.
“Jadi, semua program itu akan di-drive dan dijalankan sebagian besar oleh pemerintah pusat. Sementara, pemerintah daerah hanya akan tergantung lewat DAK (Dana Alokasi Khusus) dan DAU (Dana Alokasi Umum) yang semuanya juga banyak telah diarahkan pengeluarannya,” kata Deni.
Untuk kinerja belanja pemerintah pusat, Deni mengatakan bila berkaca dalam kinerja belanja beberapa tahun terakhir alokasi belanja barang dan belanja lain-lain cenderung meningkat sedangkan belanja modal terus menurun. Padahal belanja modal memiliki peranan lebih besar ke pertumbuhan ekonomi.
“Belanja modal justru yang penting malah berkurang secara drastis dan ini peranannya dalam total belanja negara terus menurun dalam beberapa tahun terakhir dan ini menjadi pertanyaan tentang kapasitas, produktivitas atau production capacity dari negara ini karena belanja modalnya makin hari makin kecil,” kata Deni.
Editor: Arnoldus Kristianus
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia
Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi
KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.Saham-saham Penyangga Pasar
Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah
Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Tag Terpopuler
Terpopuler





