Kamis, 14 Mei 2026

Deflasi Agustus 2025: Harga Pangan Turun, Biaya Pendidikan Naik

Penulis : Arnoldus Kristianus
1 Sep 2025 | 13:09 WIB
BAGIKAN
Pedagang menata cabai rawit di Pasar Besar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)
Pedagang menata cabai rawit di Pasar Besar, Palangka Raya, Kalimantan Tengah, belum lama ini. (ANTARA FOTO/Auliya Rahman)

JAKARTA, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Indonesia mengalami deflasi bulanan sebesar 0,08% pada Agustus 2025. Menurut BPS, penyebab utama deflasi ini adalah penurunan harga pada kelompok makanan, minuman, dan tembakau.

Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, menjelaskan bahwa kelompok makanan, minuman, dan tembakau mengalami deflasi sebesar 0,29% (dengan andil sebesar 0,08%).

Secara historis, kelompok ini memang selalu menjadi kontributor deflasi utama di bulan Agustus selama beberapa tahun terakhir. Tingkat deflasi Agustus 2025 adalah sebesar 0,08%, lebih rendah dibandingkan Agustus 2023 dan 2024.

“Komoditas penyumbang utama andil deflasi dari kelompok ini adalah komoditas tomat dan cabai rawit, dengan andil deflasi masing-masing sebesar 0,1% dan 0,7%,” ucap Pudji dalam konferensi pers secara virtual pada Senin (1/9/2025).

ADVERTISEMENT

Secara rinci, BPS membagi faktor-faktor pendorong deflasi dan inflasi ke dalam tiga komponen. Pertama, Komponen Harga Bergejolak (Volatile Prices) mengalami deflasi signifikan sebesar 0,61% dengan andil 0,1% terhadap deflasi nasional. Komoditas yang dominan adalah tomat, cabai rawit, dan bawang putih. Namun, beberapa komoditas seperti bawang merah dan beras masih mengalami inflasi.

“Secara historis, setiap bulan Agustus, komoditas bawang merah mengalami deflasi kecuali pada Agustus 2025 yang mengalami inflasi sebesar 7,59% dengan andil inflasi sebesar 0,05%,” tutur dia,

Kedua, komponen Harga Diatur Pemerintah (Administered Prices) mengalami deflasi sebesar 0,08% (dengan andil -0,02%), terutama didorong oleh penurunan harga tarif angkutan udara dan bensin.

Ketiga, Komponen Inti (Core Inflation). Meskipun terjadi deflasi secara umum, komponen ini masih mengalami inflasi tipis sebesar 0,06% (dengan andil 0,04%). Hal tersebut terutama disebabkan oleh kenaikan biaya uang kuliah di akademi/perguruan tinggi, harga emas perhiasan, dan biaya SD.

Sementara secara spasial, 27 provinsi di Indonesia mengalami deflasi pada Agustus, sementara 11 provinsi lainnya mengalami inflasi. Inflasi tertinggi tercatat di Provinsi Sumatra Utara (1,37%), sedangkan deflasi terdalam terjadi di Provinsi Maluku Utara (1,9%).

Secara tahunan, Indonesia masih mengalami inflasi 2,31% year on year (yoy). Sedangkan di sepanjang tahun berjalan (Januari-Agustus) tercatat inflasi 1,60% year to date (ytd).

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 23 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 53 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia