Kamis, 14 Mei 2026

Rupiah Terkapar, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi

Penulis : Akmalal Hamdhi
12 Mei 2026 | 17:43 WIB
BAGIKAN
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani di Jakarta, Selasa (25/11/2025). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta W. Kamdani di Jakarta, Selasa (25/11/2025). (B-Universe Photo/Joanito De Saojoao)

JAKARTA, investor.id - Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini terkapar di level Rp 17.500 per dolar AS membuat dunia usaha menghadapi tekanan berat. Selain meningkatkan biaya produksi dan kewajiban utang valas sehingga arus kas menipis, kondisi ini juga menekan margin perusahaan hingga mendorong pelaku usaha menahan ekspansi bisnis.

Ketua Umum Apindo, Shinta W. Kamdani, mengatakan pelemahan rupiah menjadi external shock bagi dunia usaha karena industri nasional masih bergantung pada impor bahan baku. Saat ini, sekitar 70% bahan baku manufaktur berasal dari impor, dengan kontribusi bahan baku mencapai sekitar 55% dalam struktur biaya produksi.

“Dengan demikian, setiap depresiasi rupiah akan langsung tercermin dalam peningkatan biaya input dalam rupiah,” ujar Shinta saat dihubungi, Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT

Menurut dia, sektor yang paling rentan terhadap tekanan kurs meliputi petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi. Misalnya kenaikan harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik telah memicu lonjakan harga resin hingga puluhan persen. Kondisi tersebut berdampak berantai terhadap industri kemasan dan berbagai sektor hilir lainnya.

Di sisi lain, penguatan dolar AS juga meningkatkan beban kewajiban perusahaan dalam valuta asing, baik untuk pembayaran bunga maupun pokok utang. Namun, pelaku usaha juga tidak memiliki ruang yang cukup untuk menaikkan harga jual karena daya beli masyarakat masih lemah.

“Sebagian tekanan biaya harus diserap oleh pelaku usaha. Ini yang kemudian menekan margin dan memengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” katanya.

Menghadapi tekanan tersebut, dunia usaha mulai mengubah strategi bisnis menjadi lebih prudent dan risk-adjusted. Salah satu pendekatan yang ditempuh adalah selective growth, yakni ekspansi tetap dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan visibilitas permintaan, efisiensi biaya, dan kepastian return on investment (ROI).

Rupiah Terkapar, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi
Kontribusi Sektor Manufaktur terhadap Perekonomian dan Lapangan Kerja. (Ilustrasi: Investor Daily)

Sementara itu, investasi yang bersifat spekulatif atau sangat bergantung pada kondisi eksternal mulai ditunda. Perusahaan juga mesti memperkuat manajemen risiko melalui peningkatan penggunaan instrumen lindung nilai atau hedging terhadap fluktuasi kurs, serta menata struktur utang agar lebih seimbang antara rupiah dan valuta asing.

Dari sisi operasional, pelaku usaha fokus melakukan efisiensi melalui rasionalisasi belanja modal atau capital expenditure (capex), optimalisasi working capital, dan peningkatan produktivitas. Selain itu, diversifikasi pemasok dan substitusi impor mulai dilakukan, meski kemampuan substitusi domestik masih terbatas di berbagai sektor industri.

“Ruang adaptasi tetap ada, namun tidak sepenuhnya mampu mengimbangi besarnya tekanan eksternal yang terjadi saat ini,” jelas Shinta.

Menurut Apindo, tekanan terhadap rupiah tidak semata dipicu faktor domestik, tetapi juga akibat dinamika global, mulai dari kenaikan yield US Treasury hingga eskalasi konflik geopolitik seperti perang Iran yang mendorong perpindahan modal global ke aset berbasis dolar AS.

Rupiah Terkapar, Pengusaha Mulai Tahan Ekspansi
Pergerakan rupiah terhadap dolar AS. (Ilustrasi: Investor Daily)

Dalam hal ini, Apindo menilai keputusan Bank Indonesia mempertahankan suku bunga acuan (BI-Rate) di level 4,75% merupakan bentuk kehati-hatian kebijakan atau policy prudence guna menjaga stabilitas makroekonomi dan kepercayaan pasar.

Kendati begitu, Shinta menilai stabilitas moneter saja belum cukup. Ia menekankan perlunya koordinasi yang lebih kuat antara kebijakan moneter, fiskal, dan sektor riil agar kepercayaan pasar dan dunia usaha tetap terjaga.

“Dengan pendekatan yang terukur dan kolaborasi kebijakan yang kuat, kami meyakini stabilitas dapat tetap terjaga dan aktivitas ekonomi dapat terus berjalan secara berkelanjutan di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian,” pungkas Shinta.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 27 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 37 menit yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 38 menit yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 49 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia