Kamis, 14 Mei 2026

Data Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Dinilai Janggal

Penulis : Arnoldus Kristianus
13 Mei 2026 | 17:29 WIB
BAGIKAN
Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik PT Sari Warna Asli Tekstil (Sari Warna) Solo, Jawa Tengah. (ANTARAFOTO/Maulana Surya)
Pekerja menyelesaikan pesanan produk tekstil untuk ekspor di pabrik PT Sari Warna Asli Tekstil (Sari Warna) Solo, Jawa Tengah. (ANTARAFOTO/Maulana Surya)

“Kami memperkirakan pertumbuhan manufaktur 1,5%, menghasilkan pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 sebesar 4,89%—dipilih sebagai titik tengah yang konservatif. Ini bukanlah angka tunggal yang pasti, melainkan titik tengah dari rentang yang dapat dipertanggungjawabkan secara analitis yang sepenuhnya didasarkan pada data yang dipublikasikan BPS,” tutur Riefky.

Selain itu, LPEM FEB UI juga menyoroti lonjakan konsumsi pemerintah yang tumbuh 21,81% pada triwulan I-2026. Menurut Riefky, kenaikan tersebut berpotensi hanya menggeser belanja dari kuartal berikutnya karena total APBN 2026 tidak berubah.

Akibatnya, konsumsi pemerintah diperkirakan justru menjadi hambatan pertumbuhan ekonomi pada triwulan II hingga triwulan IV-2026 dengan potensi beban hingga minus 0,5%. “Jika konsumsi pemerintah dikecualikan dari pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026, pertumbuhannya hanya 4,62%,” terang Riefky.

ADVERTISEMENT

Di samping kejanggalan angka statistik, Guru Besar Sosiologi Ekonomi, FISIP-Universitas Airlangga, Bagong Suyanto, dalam opininya di koran Investor Daily menyebut bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia 5,61% pada awal 2026 adalah prestasi, tetapi juga sekaligus peringatan. Menurut dia, ada semacam anomali, pertumbuhan PDB yang cukup tinggi itu terjadi di tengah daya beli yang masih lemah.

“Menandakan adanya ketimpangan struktural. Kesejahteraan tidak bisa diukur dari angka statistik semata, melainkan dari seberapa stabil pekerjaan masyarakat, seberapa terjangkau bahan pokok, dan seberapa merata peluang usaha yang berkembang di pasar kerja,” ucap dia.

Data Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Dinilai Janggal
Komponen Pengeluaran dengan Pertumbuhan Tertinggi Triwulan I-2026. (BPS/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)

Dia menyebut bahwa tahun 2026 harus menjadi momentum untuk memperbaiki kualitas, bukan sekadar kuantitas pertumbuhan. Upaya pemerintah untuk mengejar pertumbuhan yang tinggi tentu diperlukan, tapi struktur pertumbuhannya harus benar-benar diperbaiki agar tidak melalu bergantung pada konsumsi masyarakat yang rentan terdampak faktor eksternal.

“Pertumbuhan ekonomi terjadi, namun struktur kerjanya bergeser. Sektor tradisional yang padat karya melambat, sementara sektor industri yang padat modal tumbuh tetapi memarginalisasi masyarakat lokal. Akibatnya, terjadi kesenjangan keterampilan (skill gap) di mana tenaga kerja konvensional sulit terserap, yang kemudian malam memicu munculnya PHK dan pengangguran,” ucap Bagong.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 9 menit yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 32 menit yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum

Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.
National 1 jam yang lalu

Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK

Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Business 2 jam yang lalu

Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%

Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.
Lifestyle 2 jam yang lalu

Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital

Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia