Data Pertumbuhan Ekonomi 5,61% Dinilai Janggal
JAKARTA, investor.id – Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) menyoroti sejumlah kejanggalan dalam data pertumbuhan ekonomi Indonesia triwulan I-2026 yang dilaporkan mencapai 5,61%.
Ekonom LPEM FEB UI Teuku Riefky menilai, angka pertumbuhan tersebut kemungkinan terlalu tinggi karena ditopang faktor-faktor sementara serta adanya inkonsistensi pada data sisi produksi yang dirilis Badan Pusat Statistik (BPS).
“Angka 5,61% tersebut sebagian besar disebabkan oleh faktor-faktor sementara, dan ketidakkonsistenan dalam data sisi produksi BPS sendiri menunjukkan bahwa angka ini kemungkinan terlalu tinggi,” ujar Riefky dalam laporan yang diterima Rabu (13/5/2026).
Berdasarkan data BPS, perekonomian Indonesia pada triwulan I-2026 tumbuh 5,61% secara tahunan (year on year/yoy). Nilai Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku tercatat sebesar Rp 6.187,2 triliun, sedangkan atas dasar harga konstan mencapai Rp 3.447,7 triliun.
Namun, menurut Riefky, terdapat kontradiksi dalam data sektoral BPS. Di satu sisi, industri pengolahan dilaporkan tumbuh 5,04%, tetapi pada saat yang sama sektor pengadaan listrik, gas, dan air justru mengalami kontraksi sebesar 0,99%.
Padahal, sektor manufaktur merupakan pengguna listrik terbesar di Indonesia dengan kontribusi sekitar 40–42% dari total konsumsi listrik nasional. Aktivitas produksi industri, mulai dari mesin produksi, tungku peleburan, jalur perakitan, hingga sistem pendingin, sangat bergantung pada pasokan listrik.
Baca Juga:
Anomali Pertumbuhan Ekonomi“Secara logis, keduanya tidak mungkin benar: jika pasokan listrik berkurang, sektor manufaktur pengguna listrik terbesar dalam perekonomian tidak mungkin tumbuh secara fisik sebesar 5%,” kata dia.
Riefky menjelaskan, dalam sisi produksi BPS, lapangan usaha pengadaan listrik, gas, dan air mencerminkan nilai tambah yang dihasilkan produsen listrik, termasuk PLN dan produsen listrik independen. Karena itu, kontraksi 0,99% menunjukkan adanya penurunan produksi listrik secara agregat.
Menurut dia, kondisi tersebut bertolak belakang dengan klaim pertumbuhan manufaktur yang tinggi dan memerlukan penjelasan lebih lanjut dari BPS. LPEM FEB UI sendiri memperkirakan pertumbuhan sektor manufaktur sebenarnya hanya sekitar 1,5%, sehingga pertumbuhan ekonomi triwulan I-2026 diperkirakan berada di kisaran 4,89%.
Kualitas Pertumbuhan
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Tag Terpopuler
Terpopuler






