ISEAI: Rupiah Rp 17.500, Ancaman “Normal Baru” Ekonomi RI
Terlebih, pola pertumbuhan berbasis konsumsi justru meningkatkan impor barang konsumsi dan memperbesar kebutuhan valuta asing.
“Pertumbuhan yang didominasi konsumsi cenderung meningkatkan impor barang konsumsi, kembali menambah tekanan pada kebutuhan valuta asing,” terang Ronny, sekaligus menegaskan perlunya perbaikan struktur ekonomi dan penguatan industri dalam negeri.
ISEAI juga menyoroti tekanan dari pasar modal terkait tinjauan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Mei 2026. Kekhawatiran terhadap penurunan bobot saham Indonesia akibat tingginya konsentrasi kepemilikan saham memicu aksi jual investor asing dan memperbesar arus modal keluar.
“Aksi jual oleh investor asing di pasar saham sebagai antisipasi terhadap pengumuman MSCI ini menyebabkan aliran modal keluar yang signifikan, yang kemudian menekan nilai tukar rupiah,” kata Ronny.
Untuk mengantisipasi tekanan lanjutan terhadap rupiah, ISEAI mengusulkan empat langkah utama. Pertama, BI diminta lebih agresif memberikan sinyal kenaikan suku bunga (BI-Rate) demi menjaga stabilitas nilai tukar. Dalam hal ini, sebagian pertumbuhan ekonomi mungkin akan dikorbankan demi stabilitas makro yang lebih besar.
Kedua, pemerintah perlu memperkuat disiplin fiskal dan meningkatkan efisiensi belanja negara agar defisit APBN tidak menambah tekanan terhadap rupiah. Ketiga, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Bursa Efek Indonesia (BEI) didorong memperbaiki aturan free float dan transparansi pasar modal guna memenuhi standar internasional, khususnya MSCI.
Keempat, pemerintah diminta mempercepat diversifikasi energi untuk mengurangi ketergantungan impor minyak yang rentan terhadap gejolak geopolitik global. Ronny menyebut, tanpa langkah-langkah luar biasa dan koordinasi yang kuat antara seluruh pemangku kepentingan, rupiah akan terus berada dalam posisi rentan terhadap setiap guncangan global.
“Stabilitas nilai tukar adalah prasyarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kesejahteraan masyarakat luas. Level 17.500 harus menjadi titik balik bagi perbaikan struktural ekonomi Indonesia, bukan sekadar statistik pahit dalam sejarah moneter nasional,” tegas Ronny.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Tag Terpopuler
Terpopuler






