Rupiah Babak Belur, BI: Tekanan akan Segera Mereda
JAKARTA, investor.id - Bank Indonesia (BI) mengungkap kombinasi tekanan global dan domestik menjadi penyebab pelemahan rupiah hingga menembus level Rp 17.500 per dolar AS. Meski demikian, BI memastikan tetap berada di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah dipicu meningkatnya ketidakpastian global akibat konflik di Timur Tengah, yang berdampak pada kenaikan harga minyak dan sentimen pasar keuangan dunia.
“Sedangkan dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar secara musiman seperti pembayaran utang luar negeri dan pembayaran dividen serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dolar di pasar domestik,” ujar Destry, Selasa (12/5/2026).
Baca Juga:
Arah Rupiah Usai Tembus Rp 17.500
Pada perdagangan Selasa sore, rupiah ditutup melemah 115 poin atau 0,66% terhadap dolar AS ke level Rp 17.529, setelah hari sebelumnya berada di Rp 17.414 per dolar AS. Untuk meredam tekanan, dalam beberapa waktu terakhir BI terus melakukan intervensi secara konsisten melalui berbagai instrumen moneter.
Menurut Destry, BI akan melakukan smart intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, bank sentral juga akan mengoptimalkan seluruh instrumen operasi moneter guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
“BI melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow. Khususnya ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun,” terang Destry.
Ia menambahkan, likuiditas valuta asing (valas) di pasar domestik juga masih memadai. Hal itu tercermin dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) valas yang mencapai 10,9% secara year to date (ytd) hingga akhir Maret 2026.
Dengan sejumlah indikator tersebut, BI memperkirakan tekanan terhadap rupiah hanya bersifat sementara dan akan mereda dalam waktu dekat. “BI memperkirakan tekanan yang bersifat musiman ini akan mereda sehingga nilai tukar bisa kembali ke level fundamentalnya,” tutup Destry.
Editor: Prisma Ardianto
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Dharma Pongrekun Ajukan Uji Materi UU Kesehatan ke MK
Mantan Wakil Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN) Dharma Pongrekun resmi mendaftarkan permohonan uji materi Undang-Undang (UU) Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan ke Mahkamah Konstitusi (MK), Jakarta, Rabu (13/5/2026).Jasa Marga: Volume Lalin Keluar Jabotabek Naik 25,12%
Total volume lalu lintas yang meninggalkan wilayah Jabotabek di H-1 (13/5) Hari Kenaikan Yesus Kristus meningkat 25,12%.Wamen Nezar: Permainan Tradisional Jadi “Tombol Jeda” Anak dari Dominasi Ruang Digital
Wamen Komdigi Nezar Patria sebut permainan tradisional jadi "tombol jeda" efektif bagi anak untuk imbangi hidup di ruang digital.Tag Terpopuler
Terpopuler






