Kamis, 14 Mei 2026

Unik! Jumlah Emiten Saham Capai 777 dari Total 888 Perusahaan

Penulis : Jauhari Mahardhika
11 Mar 2022 | 01:04 WIB
BAGIKAN
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal
Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

JAKARTA, investor.id – PT Nanotech Indonesia Global Tbk (NANO) dan PT Sumber Tani Agung Resources Tbk (STAA) telah mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI), Kamis (10/3/2022), sebagai emiten saham ke-10 dan 11 pada tahun ini.

“Dengan tercatatnya saham dua perusahaan tersebut, maka jumlah perusahaan yang mencatatkan saham di BEI telah mencapai angka unik, yakni 777 perusahaan dari total 888 perusahaan tercatat (saham, obligasi, sukuk, dan efek beragun aset),” kata Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna dalam keterangan tertulis, Kamis (10/3/2022).

Dia menegaskan, pencapaian tersebut tentunya menjadi hal yang menggembirakan bagi BEI di tengah pemulihan ekonomi yang masih terus berlangsung. Dengan penambahan jumlah perusahaan yang mencatatkan sahamnya di BEI, mengindikasikan kepercayaan para pelaku bisnis kepada pasar modal Indonesia senantiasa terjaga dengan baik.

ADVERTISEMENT

Pada tahun 2021, BEI juga telah memperoleh pencapaian yang menggembirakan di mana BEI menjadi bursa efek dengan pencapaian jumlah perusahaan tercatat saham tertinggi selama lima tahun terakhir di antara bursa Asean.

“Keberhasilan ini merupakan upaya seluruh stakeholders pasar modal yang disupervisi oleh OJK untuk terus berupaya menjadikan pasar modal Indonesia lebih inklusif,” tutur Nyoman.

Sementara itu, hingga saat ini, telah tercatat saham 11 perusahaan di BEI, dengan total dana yang berhasil dihimpun dari penawaran umum perdana (initial public offering/IPO) senilai total Rp 3,13 triliun. Di samping itu, masih terdapat 23 perusahaan dalam pipeline pencatatan saham di BEI dengan klasifikasi aset perusahaan merujuk pada POJK Nomor 53/POJK.04/2017 sebagai berikut:

• Satu perusahaan aset skala kecil (aset di bawah Rp 50 miliar).

• 12 perusahaan aset skala menengah (aset antara Rp 50-250 miliar).

• 10 perusahaan aset skala besar (aset di atas Rp 250 miliar).

Secara sektor, adalah sebagai berikut:

• Satu perusahaan dari sektor basic materials.

• Dua perusahaan dari sektor industrials.

• Satu perusahaan dari sektor transportation & logistic.

• Dua perusahaan dari sektor consumer non-cyclicals.

• Enam perusahaan dari sektor consumer cyclicals.

• Dua perusahaan dari sektor technology.

• Dua Perusahaan dari sektor healthcare.

• Tiga perusahaan dari sektor energy.

• Tiga perusahaan dari sektor properties & real estate.

• Satu perusahaan dari sektor infrastructure.

Selain pencatatan saham, hingga 10 Maret 2022, telah terdapat 22 emisi baru efek bersifat utang dan sukuk yang dicatatkan di BEI dan diterbitkan oleh 18 perusahaan dengan total dana yang berhasil dihimpun sebesar Rp 23,07 triliun.

“Sedangkan di pipeline efek bersifat utang dan sukuk juga masih terdapat 11 perusahaan yang berencana untuk menerbitkan 14 emisi efek bersifat utang dan sukuk,” ujar Nyoman.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 28 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 39 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia