Jumat, 15 Mei 2026

Isu Resesi Picu Dolar AS Lagi-lagi Perkasa, Rupiah Ditutup Tak Berdaya

Penulis : Lona Olavia
7 Okt 2022 | 15:19 WIB
BAGIKAN
Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah meluncurkan uang rupiah kertas tahun emisi 2022 di Jakarta, Kamis (18/8/2022). Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, peluncuran uang rupiah ini merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk menyediakan uang rupiah yang berkualitas dan terpercaya kepada masyarakat.
Bank Indonesia (BI) bersama pemerintah meluncurkan uang rupiah kertas tahun emisi 2022 di Jakarta, Kamis (18/8/2022). Gubernur BI Perry Warjiyo menyampaikan, peluncuran uang rupiah ini merupakan wujud nyata komitmen bersama untuk menyediakan uang rupiah yang berkualitas dan terpercaya kepada masyarakat.

JAKARTA, investor.id - Ekonomi dunia tengah berada di bibir jurang resesi. Beberapa negara maju telah menunjukkan gejala resesi, termasuk Eropa, Inggris dan Amerika Serikat (AS). Kenaikan inflasi yang sangat tinggi di negara maju, yang diikuti respons kebijakan moneter luar biasa dan likuiditas ketat memacu apa yang disebut capital outflow dan volatilitas di sektor keuangan.

Dana Moneter Internasional (IMF) menurunkan proyeksi ekonomi global dari 3,6 persen menjadi 3,2 persen untuk tahun ini dan dari 3,6 persen menjadi 2,9 persen untuk tahun 2023. Kondisi ini akan menekan negara berkembang, termasuk Indonesia. Indonesia bisa berbangga hati tumbuh 5,44 persen pada kuartal kedua 2022.

Namun tantangan ke depan akan luar biasa. Implikasi jika dunia mengalami resesi, termasuk AS, Eropa dan lainnya, maka ekspor Indonesia akan terdampak karena permintaan yang turun. Jika permintaan turun, otomatis harga komoditas akan melemah.

ADVERTISEMENT

Selain itu, Bank Indonesia (BI) melaporkan posisi cadangan devisa Indonesia pada September 2022 turun US$ 1,4 miliar menjadi US$ 130,8 miliar dibandingkan dengan posisi pada bulan sebelumnya. Walaupun Posisi cadangan devisa turun tapi masih setara dengan pembiayaan 5,9 bulan impor atau 5,7 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri pemerintah, serta berada di atas standar kecukupan internasional sekitar 3 bulan impor. 

Selain itu, terkurasnya cadangan devisa lantaran terdapat kebutuhan untuk stabilisasi nilai tukar rupiah sejalan dengan masih tingginya ketidakpastian pasar keuangan global.

BI memandang cadangan devisa Indonesia tetap memadai, didukung oleh stabilitas dan prospek ekonomi yang terjaga, seiring dengan berbagai respons kebijakan dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan guna mendukung proses pemulihan ekonomi nasional.

Dalam perdagangan akhir pekan ini, Jumat (7/10/2022) mata uang rupiah ditutup melemah 63 poin walaupun sebelumnya sempat melemah 75 poin di level Rp. 15.251 dari penutupan sebelumnya di level Rp.15.187.

“Sedangkan untuk perdagangan Senin depan, mata uang rupiah kemungkinan dibuka berfluktuatif, namun ditutup melemah di rentang  Rp. 15.240 - Rp. 15.290,” kata Direktur PT Laba Forexindo Berjangka Ibrahim Assuaibi dalam keterangannya, Jumat (7/10/2022).

Sementara itu, dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya  pada hari Jumat, karena investor menunggu data nonfarm payrolls utama AS untuk isyarat lebih lanjut tentang ekonomi terbesar dunia, tetapi menuju kenaikan minggu kedua berturut-turut. Sementara imbal hasil Treasury AS juga turun karena pasar bertaruh bahwa melemahnya pertumbuhan ekonomi akan mendorong The Fed pada akhirnya melunakkan sikap hawkish-nya.

Tetapi banyak sinyal hawkish dari pejabat Fed membendung kerugian dolar minggu ini. Ketua Fed Jerome Powell juga telah memperingatkan bahwa bank akan mengambil risiko gangguan ekonomi karena menaikkan suku bunga secara agresif untuk meredam inflasi.

Fokus sekarang tepat pada data nonfarm payrolls AS, yang akan dirilis pada hari Jumat. Sementara angka tersebut, yang mencerminkan kesehatan pasar tenaga kerja, diperkirakan telah menurun dari bulan sebelumnya, tanda-tanda kekuatan apa pun kemungkinan akan memberi Fed lebih banyak ruang untuk mempertahankan kenaikan suku bunga.

Namun, data pada hari Kamis menunjukkan bahwa klaim pengangguran mingguan AS tumbuh sedikit lebih besar dari yang diharapkan, menunjukkan beberapa perlambatan di pasar tenaga kerja.

Editor: Investor.id

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 13 menit yang lalu

Wamen Investasi Angkat Bicara Soal Keluhan dari Pelaku Usaha China

Wakil Menteri Investasi, Todotua Pasaribu angkat suara perihal keluhan dari pengusaha China terkait hambatan berinvestasi di Indonesia.
Market 23 menit yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Jumat 15 Mei 2026, Cek Rinciannya

Harga emas perhiasan hari ini, Jumat (15/5/2026) di Raja Emas Indonesia, Hartadinata Abadi, dan Laku Emas dalam berbagai karat
Market 1 jam yang lalu

Duit Asing Tumpah ke Saham ADRO

Di tengah gencarnya aksi jual investor asing, ternyata diam-diam duit asing masuk ke saham Alamtri Resources Indonesia (ADRO).
Multimedia 1 jam yang lalu

Kandungan Santan Mirip ASI? Cek Faktanya! | Cuan Iki Podcast

Limbah kelapa, ternyata adalah "harta karun" yang diburu pasar Eropa dan Asia? Keresahan akan banyaknya sabut kelapa yang terbuang sia-sia di Indonesia
Market 2 jam yang lalu

BERITA POPULER: Harga Emas Perhiasan dan Emas Antam (ANTM) Bertahan

Berita populer 24 jam terakhir, mulai dari update harga emas perhiasan hingga harga emas Antam (ANTM) bertahan.
National 8 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia