Jumat, 15 Mei 2026

Sentimen Mereda, Siap-Siap IHSG Pekan Ini Berpotensi Rebound

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah / Zsazya Senorita
8 Mei 2023 | 04:40 WIB
BAGIKAN
Pengunjung memotret layar elektronik yang menampilkan pererakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)
Pengunjung memotret layar elektronik yang menampilkan pererakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)

Secara teknikal, kata Christy, pergerakan IHSG secara jangka pendek menunjukan breakdown support pada level 6.800, Indikatornya yakni stochastic yang terpantau turun, merupakan sinyal bearish continuation.

Namun demikian, indeks diperkirakan masih tertahan di atas support 6.730. Dengan demikian, IHSG untuk pekan depan diproyeksikan bergerak menguat terbatas di level resistance terdekat, yakni pada level psikologis 6.800 untuk kemudian resistance selanjutnya pada level 6.827.

Untuk para investor, Christy merekomendasikan, Buy on Weakness saham PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) pada area Rp1.505 dengan target harga pada resistance di level Rp1.570 serta pertimbangkan cut loss apabila break support di level harga Rp1.495. Kemudian buy saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) pada area Rp5.225 dengan target harga pada resistance di level Rp5.300 serta pertimbangkan cut loss apabila break support di level harga Rp4.990.

ADVERTISEMENT

Tak ketinggalan saham dari PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) juga direkomendasikan beli oleh Ajaib Sekuritas pada area Rp 8.950- Rp 9.000 dengan target harga pada resistance di level Rp 9.200 serta pertimbangkan cut loss apabila break support pada level harga Rp 8.700.

Harga SUN Terkerek

Sejalan dengan potensi rebound di pasar saham, harga Surat Utang Negara (SUN) diprediksi menguat dalam sepekan ke depan, dengan penurunan imbal hasil (yield) 10 tahun berada antara 6,4-6,3%. Pergerakan harga SUN yang relatif tipis dalam jangka pendek ini dipengaruhi ketidakpastian global, terutama potensi gagal bayar utang Amerika Serikat (AS) atau default.

Menurut Head of Fixed Income at PT Anugerah Sekuritas Indonesia Ramdhan Ario Maruto, sentimen yang mendorong penguatan harga SUN di Indonesia adalah likuiditas perbankan yang tinggi. Ditambah, obligasi negara masih dipandang aman (secure) di mata investor dalam negeri.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia