Jumat, 15 Mei 2026

Sentimen Mereda, Siap-Siap IHSG Pekan Ini Berpotensi Rebound

Penulis : Muhammad Ghafur Fadillah / Zsazya Senorita
8 Mei 2023 | 04:40 WIB
BAGIKAN
Pengunjung memotret layar elektronik yang menampilkan pererakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)
Pengunjung memotret layar elektronik yang menampilkan pererakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (B-Universe Photo/Mohammad Defrizal)

“Pasar kita menguat kalau saya lihat karena likuiditas dalam negeri yang masih sangat baik. Sehingga permintaan masih cukup tinggi terutama dari perbankan yang banyak mengisi portofolio mereka di surat-surat berharga,” jelas Ramdhan kepada Investor Daily, Minggu (7/5/2023).

Dia menambahkan, kenaikan Fed Fund Rate (FFR) sebenarnya ikut memperlambat laju penurunan yield SBN di Indonesia. Namun likuiditas perbankan yang besar, lagi-lagi disebut sebagai penyelamat, membuat pasar menguat. Sebab, dana tersebut dipercaya akan masuk ke pasar SBN.

Dalam sepekan, dia mengatakan, pasar surat berharga negara (SBN) Indonesia masih belum bisa mengharapkan investor asing akan masuk dan menambah kepemilikannya. Sebab, menurut analisis Ramdhan, kepemilikan asing pada pasar SBN saat ini belum tumbuh signifikan, melainkan masih di kisaran 14-15%.

ADVERTISEMENT

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan, hingga 2 Mei 2023, kepemilikan asing dalam SBN adalah 14,9% atau Rp 825,32 triliun. Sedangkan yang mendominasi kepemilikan SBN adalah perbankan 28,86%, institusi negara yakni Bank Indonesia 20%, serta asuransi dan dana pensiun 16,8% nilainya masing-masing Rp 1.555 triliun, Rp 1.107 triliun, dan Rp 930,18 triliun.

Ramadhan pun meyakini, investor domestik, terutama perbankan masih akan menguasai pasar SBN hingga akhir 2023. Pasalnya, bank di Indonesia disebut-sebut masih memiliki gap besar antara dana pihak ketiga (DPK) dan dana yang disalurkan sebagai kredit untuk industri.

“Perbankan punya likuiditas tinggi dan selisih DPK mencapai US$ 1.500 triliun. Gap ini sebagian besar berpotensi mengisi pasar SBN karena secure, selain dijamin, likuiditasnya juga semakin baik sekarang,” tutup Ramdhan.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 6 jam yang lalu

Menhut Antoni Ajak Pemimpin Dunia Perkuat Multilateralisme untuk Lindungi Hutan Dunia

Menhut RI Raja Juli Antoni ajak rimbawan dan pemimpin dunia perkuat multilteralisme dan soliditas untuk lestarikan dan lindungi hutan dunia.
National 6 jam yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 6 jam yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 7 jam yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 7 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 7 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia