Kamis, 14 Mei 2026

Harga Minyak Tertekan Oleh Penundaan Pertemuan OPEC+  

Penulis : Indah Handayani
23 Nov 2023 | 11:55 WIB
BAGIKAN
Logo Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). ( Foto: AFP/File )
Logo Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (OPEC). ( Foto: AFP/File )

JAKARTA, investor.id - Harga minyak tertekan dan turun ke zona US$ 76.79 per barel pada Kamis pagi (23/11/2023). Disebabkan oleh penundaan pertemuan OPEC+ dan meningkatnya stok minyak mentah AS menurut EIA.

Tim Research and Development ICDX menyebut, OPEC mengalami penundaan pertemuan yang sebelumnya dijadwalkan pada 26 November, tetapi diundur menjadi tanggal 30 November dikarenakan munculnya perselisihan terkait kuota produksi untuk anggota Afrika, termasuk negara-negara seperti Angola dan Nigeria.

Karena pada pertemuan Juni lalu, OPEC+ memutuskan untuk meningkatkan kuota UEA dan mengurangi target produksi Angola, Kongo, dan Nigeria, karena Angola dan Kongo telah memproduksi minyak di bawah target produksi mereka pada tahun 2024, sementara Nigeria mampu meningkatkan produksi di atas target karena membaiknya situasi keamanan di Delta Niger yang kaya minyak.  

ADVERTISEMENT

Namun, Angola, Kongo, dan Nigeria berupaya untuk meningkatkan kuota pasokan tahun 2024 mereka di atas tingkat sementara yang disepakati pada pertemuan OPEC+ bulan Juni.  “Hal ini menjadi kejutan dan menyebabkan penurunan harga minyak pada awal sesi perdagangan setelah berita menyebar bahwa perselisihan tersebut melibatkan produsen minyak kecil di Afrika yang bukan eksportir terbesar dalam kelompok OPEC+,” tulis Tim Research and Development ICDX dalam risetnya, Kamis (23/11/2023).

Sementara itu, Tim Research and Development ICDX menambahkan, di lepas pantai Louisiana, tumpahan minyak besar-besaran telah terjadi, menyebabkan lebih dari satu juta galon minyak mencemari Teluk Meksiko. US Coast Guard tengah melakukan pencarian sumber kebocoran, dan sebagai langkah pencegahan, jalur pipa sepanjang 107.826 km ditutup oleh Main Pass Oil Gathering Co (MPOG).

Penutupan tersebut dilakukan setelah tumpahan minyak terdeteksi sejauh 19 mil di Sungai Mississippi, New Orleans.  Penjaga Pantai, yang memimpin operasi pembersihan, menyatakan bahwa perhitungan awal menunjukkan volume kebocoran mencapai 1,1 juta galon atau setara dengan 26.190 barel. Walaupun terjadi kebocoran minyak, data dari EIA menyampaikan Amerika Serikat tetap mengalami peningkatan persediaan minyak mentah sebesar 8,7 juta barrel, dipicu oleh impor yang lebih tinggi.

Dari data ekonomi Amerika Serikat (AS), Tim Research and Development ICDX menambahkan, Durable Goods Orders turun 5,4% pada bulan ini, melampaui ekspektasi penurunan sebesar 3,4%. Ini menjadi sinyal potensial tentang ketidakpastian dalam pertumbuhan ekonomi dan mencerminkan tantangan dalam mengelola stabilitas harga dan merespon perubahan di pasar keuangan global. Keseluruhan, berbagai peristiwa ini menyoroti kompleksitas dinamika ekonomi dan energi yang terus berkembang di tingkat global.

“Melihat dari sudut pandang teknis, harga minyak berpotensi menemui posisi resistance terdekat di level US$ 79,43 per barel. Namun, apabila menemui katalis negatif maka harga berpotensi turun ke support terdekat di level US$ 74,21 per barel,” tutup Tim Research and Development ICDX.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 4 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 15 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 44 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia