Harga Minyak Ambles 1% di Tengah Kekhawatiran Tertundanya Pertemuan OPEC+
HOUSTON, investor.id - Harga minyak ambles sekitar 1% pada Kamis (23/11/2023). Memperpanjang penurunan di tengah ekspektasi bahwa OPEC+ mungkin tidak memperdalam pengurangan produksi tahun depan. Setelah kelompok produsen tersebut menunda pertemuan kebijakannya.
Dikutip dari Reuters, minyak mentah berjangka Brent turun 68 sen (0,8%) menjadi US$ 81,28 per barel pada 20.24 GMT setelah jatuh sebanyak 4% pada Rabu (22/11/2023). Sedangkan Minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS turun 75 sen (1%) menjadi US$ 76,35 setelah turun sebanyak 5% di sesi sebelumnya. Aktivitas perdagangan sepi karena hari libur Thanksgiving AS.
Dalam sebuah langkah mengejutkan pada Rabu (22/11/2023), Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia menunda pertemuan tingkat menteri di mana mereka diperkirakan akan membahas pengurangan produksi minyak hingga 30 November.
Para produsen sedang berjuang untuk menyepakati tingkat produksi menjelang pertemuan yang awalnya ditetapkan pada 26 November, kata sumber OPEC+, yang menunjukkan bahwa ketidaksepakatan tersebut sebagian besar terkait dengan negara-negara Afrika.
Anggota OPEC+, Angola dan Nigeria, menargetkan produksi minyak yang lebih tinggi, kata para pejabat kepada Reuters pada Kamis (23/11/2023).
“Kami pikir Nigeria dapat diredakan karena kepemimpinannya menghargai keanggotaan lamanya di OPEC dan meningkatkan hubungan dengan Arab Saudi,” kata analis RBC Capital Markets Helima Croft.
Namun, Croft menyebut, mungkin akan lebih sulit untuk menjembatani kesenjangan dengan Angola, yang merupakan anggota kelompok produsen yang lebih moodier sejak bergabung pada 2007.
Analis Price Futures Group di Chicago Phil Flynn mengatakan, pergerakan ke bawah tampak berlebihan dan pasar kemungkinan akan menguat minggu depan setelah para pedagang kembali dari liburan Thanksgiving.
Pertanyaan mengenai pasokan OPEC+ muncul ketika data menunjukkan bahwa stok minyak mentah Amerika Serikat (AS) melonjak 8,7 juta barel pada minggu lalu, jauh lebih besar dari perkiraan analis sebanyak 1,16 juta barel.
Sedangkan dari sisi permintaan, terdapat berita yang lebih suram. Meskipun survei menunjukkan penurunan aktivitas bisnis zona Euro mereda pada November, data menunjukkan ekonomi blok tersebut akan kembali berkontraksi pada kuartal ini karena konsumen terus membatasi pengeluaran.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler






