Kamis, 14 Mei 2026

Banyak Saham Bagus, tapi Mending Fokus pada 7 Ini Saja untuk 2024

Penulis : Jauhari Mahardhika
17 Des 2023 | 09:02 WIB
BAGIKAN
Pengunjung memotret layar elektronik yang menampilkan pererakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (Dok. B-Universe Photo)
Pengunjung memotret layar elektronik yang menampilkan pererakan saham di Main Hall Bursa Efek Indonesia (BEI) di Jakarta. (Dok. B-Universe Photo)

JAKARTA, investor.id – Tahun 2023 tak lama lagi bakal berlalu, indeks harga saham gabungan (IHSG) tumbuh 4,97% ke level 7.190,9 (year to date/ytd). Tahun ini, IHSG sempat mencapai titik terendah pada Oktober. Namun, sejak itu, tren IHSG menguat.

Penguatan indeks acuan untuk saham tersebut didukung oleh keyakinan pasar bahwa siklus suku bunga The Fed sudah selesai. Bank sentral Amerika Serikat itu memproyeksikan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 4,6% pada 2024, yang mengindikasikan pemotongan suku bunga hingga 75 bps pada tahun depan.

“Investor di negara berkembang mungkin menafsirkan keyakinan ini sebagai indikasi sentimen risk-on, yang dapat meluas ke negara berkembang,” tulis Head of Equity Research Samuel Sekuritas, Prasetya Gunadi dalam risetnya.

ADVERTISEMENT

Di samping itu, menurut dia, aset ekuitas yang valuasinya cenderung murah sebagai aset risiko akan diuntungkan oleh situasi tersebut. Tahun depan, perhatian pasar diyakini akan terfokus pada relaksasi kebijakan moneter, seiring dengan makin melambatnya pertumbuhan global.

Di dalam negeri, pertumbuhan PDB diperkirakan mendapat dorongan jangka pendek dari peningkatan konsumsi, karena belanja pemilu serta pemberian stimulus dari pemerintah untuk menjaga daya beli dan tingkat inflasi, termasuk program bantuan beras Rp 2,6 triliun dan bantuan tunai El Nino untuk rumah tangga berpendapatan rendah Rp 7,5 triliun.

Namun, memburuknya terms of trade (ToT) dan lemahnya permintaan eksternal berpotensi menyebabkan melebarnya current account deficit (CAD) menjadi 0,9% pada 2024. Sedangkan impor diperkirakan tetap stabil.

“Mengingat harga yang diatur pemerintah, kami memperkirakan inflasi akan tetap berada dalam target BI sebesar 1,5-3,5% dan BI baru akan memulai siklus pemotongan suku bunga paling cepat pada Oktober 2024,” jelas Prasetya.

IHSG 2024 dan Rekomendasi Saham 

Samuel Sekuritas memperkirakan IHSG akan lebih fluktuatif pada 2024, karena investor diperkirakan memilih pendekatan wait and see menjelang pemilu pada semester I-2024. Tahun depan, IHSG diprediksi mencapai level 7.600. Proyeksi itu menyiratkan valuasi forward PE sebesar 14 kali, masih lebih rendah dari 1 std.

Adapun laba per saham (earning per share/EPS) pada 2024 diestimasi tumbuh 8,6% dibandingkan tahun ini sebesar 6,1%. “Kami mempertahankan rating atau peringkat overweight untuk sektor consumer staples, bank, telekomunikasi, dan properti,” sebut Prasetya.

Bagi sektor consumer staples atau barang konsumsi harian, terdapat potensi katalis positif dari kampanye politik yang dapat mendongkrak daya beli masyarakat, khususnya segmen menengah ke bawah, serta dukungan dari cukup terkendalinya biaya input.

Di sektor perbankan, mayoritas bank cukup yakin bahwa loan at risk (LAR) masih dapat meningkat di masa depan. Bank-bank tersebut sudah cukup puas dengan rasio coverage LAR dan NPL (non performing loan) saat ini, yang mengindikasikan bahwa cost of credit (CoC) masih mungkin menurun dan bank-bank tersebut dapat mencetak pertumbuhan jangka panjang yang kuat di masa depan.

Untuk sektor telekomunikasi, sejumlah emiten diperkirakan bakal membukukan pertumbuhan trafik data yang cukup pesat, didukung oleh momentum pemilu. Di samping itu, persaingan di pasar seluler yang makin ‘dewasa’ akan membantu mendongkrak average revenue per user (ARPU). Jika melihat data historis, trafik data emiten telekomunikasi biasanya mulai meningkat dua kuartal sebelum pemilu.

Untuk sektor properti, stimulus pengurangan pajak properti dengan anggaran sebesar Rp 3,2 triliun dapat membantu meningkatkan prapenjualan pada 2024, di samping valuasinya yang cukup menarik. Saat ini, saham-saham properti diperdagangkan dengan diskon 75% terhadap net asset value (NAV).

“Saham pilihan teratas dari kami adalah BBRI, BMRI, TLKM, ICBP, DRMA, TOWR, dan CTRA,” ungkap Prasetya.

Samuel Sekuritas merekomendasikan beli saham BBRI dengan target harga Rp 6.100, BMRI Rp 7.200, TLKM Rp 4.500, ICBP Rp 13.000, DRMA Rp 1.900, TOWR Rp 1.310, dan CTRA Rp 1.400.

Editor: Jauhari Mahardhika

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 27 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 57 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia