Arah Pasar Saham di Tahun Pemilu dan Skenarionya
JAKARTA, investor.id – BNI Sekuritas merilis laporan Market Outlook 2024. Laporan tersebut mengurai soal prospek pasar saham di tahun pemilu. Apakah indeks harga saham gabungan (IHSG) bakal cenderung tertekan atau malah melaju?
BNI Sekuritas memprediksi IHSG bakal cenderung menghijau di tengah gejolak politik Indonesia, yang mana akan berlangsung pemilihan presiden dan wakil presiden pada Februari 2024. Selama ini, dampak politik dan pemilu Indonesia memberikan hasil positif, sehingga pasar dipercaya juga akan positif tapi penuh kehati-hatian.
“Di samping itu, fondasi yang kokoh dalam struktur negara serta dorongan global yang kuat menuju energi terbarukan dan/atau kendaraan listrik telah mendorong banyak perusahaan yang berfokus pada tema tersebut mencari pendanaan dengan tepat waktu,” kata SEVP Research BNI Sekuritas, Erwan Teguh dalam ulasannya.
Menurut dia, harapan akan pemulihan konsumsi dan dorongan investasi bersama dengan pandangan bahwa pendapatan per kapita negara telah melampaui US$ 5.000 juga meningkatkan prospek pertumbuhan secara keseluruhan. Karena itu, BNI Sekuritas percaya bahwa kegiatan seperti IPO dan upaya penggalangan dana lainnya akan terus berlangsung dengan antusiasme tinggi pada 2024.
Adapun sepanjang tahun ini, pasar keuangan global – termasuk Indonesia – menghadapi tantangan besar. Dunia harus beradaptasi dengan kehidupan pasca pandemi Covid-19. Seiring perubahan yang terjadi, tahun 2023 dianggap sebagai awal dari penyesuaian diri terhadap kondisi yang baru. Sedangkan tahun 2024 dianggap sebagai tahun normalisasi.
Lebih lanjut Erwan mengungkapkan bahwa pada tahun 2023, gejolak ekonomi diwarnai ketidakpastian. Stimulus ekonomi dari era pandemi mendorong pergerakan di pasar investasi, namun ketakutan akan resesi menjadi fokus bersama, terutama terkait kebijakan suku bunga AS yang menurun di tengah risiko inflasi yang begitu mengkhawatirkan.
Erwan menambahkan bahwa pada Maret 2023, fluktuasi risiko terlihat pada bank-bank kelas menengah AS, yang menambah kekhawatiran pasar. China juga mengalami kesulitan dalam pemulihan ekonominya, meskipun telah membuka kembali perekonomian lebih awal dari yang diperkirakan.
Namun, pada paruh kedua tahun 2023, sentimen mulai membaik dengan harapan pasar beralih dari stagflasi ke narasi ‘soft landing’, meskipun kemudian terdapat kekhawatiran bahwa suku bunga kemungkinan akan berada di level yg tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama.
Sementara itu, Indonesia juga menghadapi tantangan serupa dalam beradaptasi dengan lingkungan pasca pandemi. Penurunan tajam harga komoditas utama dan lonjakan harga beras menjadi penghambat utama, yang memaksa bank sentral untuk menaikkan suku bunga pada Oktober 2023 secara tak terduga. Namun, pada November 2023, Bank Indonesia menghentikan kenaikan suku bunga karena stabilnya nilai tukar rupiah yang menguat sekitar 2,5% secara bulanan.
Proyeksi IHSG 2024
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Tag Terpopuler
Terpopuler






