Antam (ANTM) Dapat Momentum, Potensi Cuan Sahamnya Masih Tinggi
JAKARTA, investor.id – Momentum bullish emas diperkirakan terus berlanjut hingga 2024, sehingga menjadi katalis positif bagi PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam. Tahun ini, harga emas di pasar global sempat mencapai level tertinggi sepanjang masa.
Tren penguatan harga emas seiring optimisme data ekonomi Amerika Serikat (AS) dan the Fed yang makin dovish. Alhasil, kondisi tersebut mendorong kenaikan permintaan logam ini.
Adapun ketidakpastian ekonomi global yang terus berlanjut, dengan adanya konflik yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan Eropa Timur, serta peningkatan ketegangan antara China dan AS, juga menjadi faktor kunci dalam mendorong permintaan aset safe haven seperti emas.
“Kedua sentimen utama itu telah meningkatkan harga emas lebih dari 10% pada 2023, yang tercermin dari kenaikan harga jual rata-rata (average selling price/ASP) emas Antam hampir 6% (year on year/yoy) menjadi US$ 2.042 per toz hingga kuartal III-2023 dari US$ 1.930 per toz,” tulis analis NH Korindo Sekuritas Indonesia, Axell Ebenhaezer dalam risetnya.
Sementara itu, harga komoditas lain goyah karena kelebihan pasokan global terus berlanjut. Antam melaporkan penurunan ASP bijih nikel sebesar 7,6% (yoy) menjadi US$ 47,4 per wmt dari US$ 51,3 per wmt. ASP feronikel juga turun 21,9% (yoy) menjadi US$ 15.434 per ton dari US$ 19.772 per ton.
“Itu bukan hal yang mengejutkan karena harga global bijih nikel dan produk nikel mengalami penurunan besar pada 2023,” sebut Axell.
Menurut dia, alasan utama penurunan harga nikel adalah kelebihan pasokan di pasar nikel global sebagai dampak langsung dari hilirisasi rantai pasokan nikel oleh Indonesia.
Begitu juga harga bijih bauksit global turun pada 2023 karena masalah kelebihan pasokan serupa, yang tercermin dari ASP bauksit emiten berkode saham ANTM tersebut. ASP bauksit ANTM terpangkas 36,1% (yoy) menjadi US$ 20,4 per mmt dari US$ 31,9 per mmt.
Alhasil, ANTM membukukan kenaikan tipis laba kotor sebesar 1,9% hingga kuartal III-2023 menjadi Rp 6,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 5,99 triliun. Laba bersih naik 8,5% menjadi Rp 2,85 triliun dari Rp 2,62 triliun.
“Hal itu terjadi meskipun adanya penurunan pendapatan sebesar 8,3% (Rp 30,9 triliun vs Rp 33,7 triliun), yang membuktikan keberhasilan ANTM dalam meningkatkan efisiensi melalui pemangkasan biaya energi,” ungkap Axell.
Rekomendasi & Target Harga Saham ANTM
Sementara itu, sejumlah proyek hilirisasi ANTM berada di jalur yang tepat untuk mencapai target. ANTM tengah fokus pada beberapa proyek konstruksi sebagai bagian dari upaya hilirisasi operasi mereka.
Smelter feronikel di Halmahera Timur sedang dalam tahap commissioning dan diharapkan mulai berproduksi pada akhir tahun ini. Fasilitas tersebut akan memiliki kapasitas produksi sebesar 13.500 tni per tahun.
ANTM juga menjadi bagian dari konsorsium yang membangun Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) di Mempawah. Semula, proyek ini ditargetkan mulai berproduksi pada 2023. Namun, tertunda karena ketidaksepakatan dengan mitra JO, yaitu China Aluminium International Engineering (Chalieco). Kilang ini dijadwalkan selesai pada semester I-2025 dan akan menjadi SGAR terbesar di Asia Tenggara.
Dengan berbagai faktor yang ada, NH Korindo Sekuritas merekomendasikan beli saham ANTM. Target harga saham ANTM dipatok Rp 2.050. Target harga tersebut setara dengan forward PE ratio sebesar 12,58 kali, sedikit di bawah band 1 tahun SD+1 di 12,83. Harga ANTM saat ini diperdagangkan pada forward PE ratio 10 kali.
Pada perdagangan terakhir, saham ANTM ditutup pada harga Rp 1.665. Dengan demikian, potensi cuan saham ANTM tergolong masih tinggi mencapai 23%. Risiko utamanya adalah perubahan kebijakan nikel pemerintah, The Fed yang hawkish, dan berlanjutnya penurunan harga nikel.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler






