4 Saham Batu Bara Paling Recommended untuk Tahun 2024
JAKARTA, investor.id – Pertumbuhan volume perdagangan batu bara global diperkirakan melambat ke 3% (year on year/yoy) menjadi 1,2 miliar ton pada 2023 dibandingkan tahun 2022 yang sebesar 7% (yoy). Lantas, bagaimana nasib emiten batu bara dan arah sahamnya pada 2024?
Dari sisi impor, penurunan volume disebabkan oleh melambatnya impor dari Eropa (-51% yoy; inline), menyusul ketersediaan LNG yang lebih tinggi, yang mengimbangi pertumbuhan impor dari China (+61% yoy; inline) dan JKT/ASEAN/India di -10%, -15%, +10% yoy (di bawah ekspektasi, kecuali India).
“Dari sisi penawaran, seperti yang diperkirakan, ekspor Australia memimpin pertumbuhan pasokan (+10% yoy; inline), diikuti oleh Indonesia (-1% yoy),” tulis analis BRI Danareksa Sekuritas, Erindra Krisnawan dalam risetnya.
Menurut dia, meskipun impor meningkat 6% secara bulanan pada Oktober-November 2023 dibandingkan September 2023, yang sebagian besar didorong oleh pulihnya impor China dan India, stabilnya pasokan dan persediaan China yang memadai dapat membatasi permintaan impor dan kenaikan harga, meskipun permintaan saat musim dingin sedang berlangsung.
Erindra memperkirakan peningkatan produksi domestik yang lebih kuat di pasar-pasar utama (India dan China) terus berlanjut. Karena itu, pelemahan permintaan masih akan terjadi pada 2024.
“Kami yakin Australia dan Indonesia akan terus meningkatkan pasokan di tengah ketersediaan kapasitas dan normalisasi kondisi cuaca. Kami memperkirakan pasar bakal tetap surplus (5-10 MT) pada 2024 dan harga batu bara Newcastle rata-rata sebesar US$ 120 per ton pada 2024, dengan harga ICI3/ICI4 sebesar US$ 72/US$ 55 per ton,” ungkap dia.
Rekomendasi & Target Harga Saham
Erindra juga memproyeksikan penurunan laba bersih emiten batu bara – yang masuk cakupan risetnya – rerata sebesar 13-28% pada 2024. Para emiten tersebut adalah Adaro Energy (ADRO), Indo Tambangraya Megah (ITMG), dan Bukit Asam (PTBA). Hal itu seiring prediksi penurunan harga batu bara Newcastle, ICI3, dan ICI4 masing-masing sebesar 31%, 15%, dan 15%.
Sedangkan Harum Energy (HRUM) diperkirakan mengalami penurunan laba bersih terendah pada 2024, karena ditopang oleh kontribusi bisnis nikel.
“Kami memperkirakan laba (emiten batu bara) akan mencapai titik terendah pada 2025, karena normalisasi harga batu bara akan terus berlanjut,” sebut Erindra.
Sebab itu, BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan rating netral untuk sektor batu bara Indonesia. Adapun saham-saham pilihannya secara berurutan adalah ADRO, HRUM, PTBA, dan ITMG.
ADRO direkomendasikan beli dengan target harga Rp 2.800. Begitu juga HRUM dengan target harga Rp 1.700, PTBA Rp 2.750, dan ITMG Rp 27.800.
Editor: Jauhari Mahardhika
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau
Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden
Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.Rupiah Melorot, Ekspor Dapat Momentum
Peningkatan ekspor nasional justru perlu terus dilakukan karena daya saing meningkat di tengah pelemahan rupiah.Tag Terpopuler
Terpopuler






