Sabtu, 4 April 2026

Bitcoin Anjlok 50%, Benarkah Gejala Crypto Winter Kembali Menghantui?

Penulis : Grace El Dora
16 Feb 2026 | 15:27 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi Trading Bitcoin. (Ist.)
Ilustrasi Trading Bitcoin. (Ist.)

NEW YORK, investor.id – Pasar kripto kembali diguncang ketidakpastian setelah harga Bitcoin merosot tajam dari rekor tertingginya di atas US$ 126.000 pada Oktober 2026. Penurunan drastis hingga hampir setengah nilai aset ini memicu kekhawatiran akan kembalinya fenomena "crypto winter", yaitu periode lesu berkepanjangan yang pernah terjadi saat kejatuhan FTX pada 2022 silam.

Dalam sebulan terakhir saja, nilai Bitcoin telah terpangkas lebih dari 25%. Kondisi ini mengguncang kepercayaan investor yang selama ini menganggap Bitcoin sebagai "emas digital" atau aset yang akan terus meroket di bawah kebijakan pemerintahan AS yang pro-kripto.

Aliran Dana ETF: Belum Ada Tanda Kepanikan Massal

Meskipun sentimen pasar memburuk, data menunjukkan gambaran yang berbeda, seperti dikutip CNBC internasional, Senin (16/2/2026). Para ahli melihat investor jangka panjang belum sepenuhnya meninggalkan aset ini.

Advertisement

Sebagai contoh, iShares Bitcoin Trust (IBIT) milik BlackRock mencatat arus keluar bersih (net outflow) sekitar US$ 2,8 miliar dalam tiga bulan terakhir. Angka ini memang signifikan, namun jika melihat ke belakang, ETF ini telah menarik arus masuk bersih (net inflow) hampir US$ 21 miliar selama setahun terakhir.

"Bukan investor ETF yang mendorong aksi jual besar-besaran ini," ujar CIO Bitwise Asset Management Matt Hougan. Menurutnya, tekanan jual kemungkinan besar berasal dari investor kripto lama yang mulai mengurangi eksposisi mereka, serta hedge fund yang menggunakan ETF sebagai instrumen perdagangan jangka pendek.

Akhir Era Spekulasi?

CEO Galaxy Mike Novogratz menyatakan, pasar kripto mungkin sedang memasuki babak baru. Dalam forum finansial di New York, ia menyebut bahwa "era spekulasi" kemungkinan akan berakhir.

"Ke depan, imbal hasil kripto akan lebih mirip dengan investasi jangka panjang konvensional. Masyarakat ritel biasanya masuk ke kripto karena ingin untung delapan hingga 10 kali lipat, bukan untuk mengejar kenaikan tahunan 11%," ungkap Novogratz.

Dilema 'Emas Digital'

Di sisi lain, jatuhnya harga Bitcoin menjadi pil pahit bagi pendukung teori "emas digital". Will Rhind selaku CEO GraniteShares mencatat adanya anomali di mana aset aman (safe haven) tradisional seperti emas justru mencetak rekor tertinggi saat Bitcoin terpuruk.

"Sangat berat menjadi investor Bitcoin saat ini. Seharusnya ini tidak terjadi; ketika Bitcoin turun hampir 50%, emas tidak seharusnya mencapai titik tertinggi sepanjang masa," pungkas Rhind.

Siklus Volatilitas dan Adopsi Institusional Kripto

Bitcoin telah melalui berbagai siklus fluktuasi ekstrem sejak kemunculannya, namun siklus 2025-2026 ini memiliki karakteristik yang berbeda karena keterlibatan institusi besar melalui instrumen ETF (Exchange-Traded Fund). Berbeda dengan keruntuhan pada 2022 yang dipicu oleh kegagalan sistemik bursa seperti FTX, penurunan kali ini lebih dipengaruhi oleh dinamika makroekonomi dan penyesuaian ekspektasi pasar terhadap kebijakan ekonomi global.

Kehadiran manajer aset raksasa seperti BlackRock dan Fidelity telah mengubah profil risiko Bitcoin. Meskipun volatilitas tetap tinggi, keberadaan arus dana institusional memberikan "lantai" yang lebih stabil dibandingkan masa lalu. Hal ini menciptakan dikotomi di pasar: antara trader spekulatif yang mengejar keuntungan instan dan investor institusional yang melihat kripto sebagai bagian dari aliansi portofolio jangka panjang.

Pemahaman mengenai siklus ini penting bagi investor untuk membedakan antara fluktuasi pasar yang normal dan kehancuran fundamental aset secara menyeluruh.

Editor: Grace El Dora

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 25 menit yang lalu

Komitmen Investasi Rp574 Triliun dari Jepang dan Korsel

Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, Indonesia masih menjadi daya tarik bagi para investor dari Jepang maupun Korsel.
Finance 49 menit yang lalu

Bank Mantap Dukung Taspen Tingkatkan Kualitas Hunian Masyarakat

PT Bank Mandiri Taspen (Bank Mantap) mendukung langkah PT Taspen (Persero) dalam meningkatkan kualitas hunian masyarakat.
Business 1 jam yang lalu

PLN Icon Plus Cegah Stunting melalui Kolaborasi Posyandu di Srondol Wetan

PLN Icon Plus SBU Regional Jawa Bagian Tengah melaksanakan program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) cegah stunting.
Lifestyle 1 jam yang lalu

Vaksinasi Wajib yang Harus Dilengkapi Calon Jamaah Haji

Berdasarkan regulasi terbaru penyelenggaraan haji 2026 dari Kementerian Kesehatan, terdapat vaksin yang wajib dipenuhi oleh calon jamaah haji sebelum berangkat ke Tanah Suci.
Market 2 jam yang lalu

Harga Emas Perhiasan Hari Ini, Sabtu 4 April 2026, Cek Rinciannya

Berikut adalah daftar harga emas perhiasan dalam berbagai kadar karat pada Sabtu, 4 April 2026
Market 3 jam yang lalu

BERITA POPULER: BBCA Diborong Asing hingga Harga Emas Antam (ANTM) Runtuh

Berita populer dalam 24 jam terakhir, mulai dari BBCA diborong asing hingga harga emas Antam (ANTM) runtuh

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia