Sabtu, 4 April 2026

Ekonom Soroti Dampak Lonjakan Harga Minyak Dunia ke BBM

Penulis : Bambang Ismoyo
1 Apr 2026 | 11:40 WIB
BAGIKAN
Ilustrasi pengisiaan BBM di SPBU. (Foto: AP/ David Zalubowski)
Ilustrasi pengisiaan BBM di SPBU. (Foto: AP/ David Zalubowski)

JAKARTA, investor.id - Isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi, khususnya Pertamax, sempat ramai diperbincangkan publik setelah muncul proyeksi harga yang disebut-sebut menembus Rp 17.000 per liter. Kabar ini memicu kekhawatiran di tengah masyarakat, terutama kalangan menengah yang kini bergantung pada BBM non-subsidi.

Namun, pada akhirnya PT Pertamina selaku badan usaha telah merilis dan menetapkan harga BBM nonsubsidi tetap di angka Rp 12.300 per liter untuk wilayah Jakarta. 

Ekonom Senior Center of Reform on Economics (Core Indonesia) Mohammad Faisal mengungkapkan, harga jual Rp 17.000 per liter tersebut memang terlihat tinggi. Namun, ia menegaskan potensi kenaikan tersebut tetap masuk akal apabila mengacu pada pergerakan harga minyak dunia yang mengalami lonjakan signifikan dalam beberapa waktu terakhir.

Advertisement

“Menurut saya memang terlalu tinggi, karena mestinya kan walaupun memang kita melihat gejolak harganya itu di tingkat global dari level 60 dolar AS per barrel kemudian ke 70 dolar AS per barel, kemudian sekarang di 100 dolar AS per barel,” ungkap Faisal dalam keterangannya, dikutip pada Kamis (1/4/2026).

Ia melanjutkan, kenaikan harga minyak mentah global memang menjadi faktor utama yang memengaruhi harga BBM non-subsidi di dalam negeri. Jika skema penyesuaian harga sepenuhnya mengikuti mekanisme pasar internasional, maka lonjakan harga seperti yang diproyeksikan bukan hal yang mustahil.

“Tetapi kalau memang betul-betul mengikuti harga global, ini (Rp 17.000) memang jadinya bisa naik segitu,” lanjutnya.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa harga minyak dunia bersifat fluktuatif dan tidak selalu berada dalam tren naik. Pergerakannya cenderung dinamis, mengikuti berbagai faktor seperti kondisi geopolitik, permintaan global, hingga kebijakan produksi negara-negara penghasil minyak.

Lebih lanjut, ia menekankan bahwa kebijakan harga BBM seharusnya tidak sepenuhnya bersifat linear mengikuti kenaikan harga minyak dunia. Pemerintah dan pemangku kebijakan, termasuk Pertamina, dinilai perlu mempertimbangkan aspek stabilitas ekonomi domestik, khususnya daya beli masyarakat.

Kelompok masyarakat menengah disebut sebagai pihak yang paling terdampak, mengingat mereka umumnya tidak lagi menggunakan BBM bersubsidi, tetapi juga cukup sensitif terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok.

“Nah dan at some point mestinya tidak harus linear peningkatannya, persentasenya. Sehingga ada kepentingan juga untuk menjaga daya beli daripada masyarakat kelas menengah,” pungkas Faisal.

Editor: Natasha Khairunisa

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Business 30 menit yang lalu

Pengadaan Mobil Kopdes Perlu Berbasis Data 

Pemerintah perlu membuat peta jalan yang terukur dan berbasis data, dalam memenuhi kebutuhan mobil operasional Kopdes Merah Putih
InveStory 41 menit yang lalu

Ketika Asuransi Harus Berpikir Seperti Bisnis Ritel

Makin banyak masyarakat dan pelaku usaha kecil terlindungi, makin kuat pula fondasi ekonomi nasional.
International 50 menit yang lalu

Warren Buffett Beri Peringatan Keras Sistem Perbankan Global Sedang Rapuh

Warren Buffett peringatkan kerapuhan sistem perbankan global. Berkshire Hathaway timbun kas US$ 373 miliar saat risiko properti meningkat.
National 1 jam yang lalu

Sebar Qurban 2026 Targetkan Ratusan Ribu Penerima

Selain nilai spiritual, kegiatan kurban dapat berkontribusi terhadap ketahanan pangan serta mendukung perputaran ekonomi masyarakat.
Business 2 jam yang lalu

Hemat Energi 40%, Industri Tekstil Mulai Adopsi Truk Listrik

Penggunaan kendaraan listrik menjadi langkah strategis dalam merespons tantangan pasokan BBM di tengah dinamika geopolitik global.
International 2 jam yang lalu

WHO Kecam Serangan ke Fasilitas Kesehatan di Iran

WHO kecam serangan AS & Israel ke fasilitas kesehatan Iran. 4 juta orang mengungsi, risiko wabah penyakit kian mengancam Timur Tengah.

Tag Terpopuler


Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia