Harga CPO Bangkit, Ditopang Berjibun Sentimen Positif
JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) bangkit pada Senin (11/5/2026), setelah melemah dalam beberapa hari sebelumnya. ditopang penguatan harga minyak mentah, kenaikan ekspor, serta sentimen positif kebijakan biodiesel B15 Malaysia yang mulai berlaku Juni mendatang.
Berdasarkan data BMD pada penutupan Senin (11/5/2026), kontrak berjangka CPO untuk Mei 2026 naik 17 Ringgit Malaysia menjadi 4.495 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juni 2026 menguat 12 Ringgit Malaysia menjadi 4.484 Ringgit Malaysia per ton.
Sementara itu, kontrak berjangka CPO Juli 2026 terkerek 11 Ringgit Malaysia menjadi 4.516 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 meningkat 11 Ringgit Malaysia menjadi 4.532 Ringgit Malaysia per ton.
Kontrak berjangka CPO September 2026 menanjak 15 Ringgit Malaysia menjadi 4.541 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 naik 16 Ringgit Malaysia menjadi 4.548 Ringgit Malaysia per ton.
Dikutip dari Tradingview, haerga CPO melonjak sekitar 1% ke level 4.550 Ringgit Malaysia per ton, menghentikan tren pelemahan sebelumnya di tengah melemahnya nilai tukar ringgit serta menguatnya harga minyak nabati di pasar Dalian dan Chicago.
Sementara itu, harga minyak mentah ikut menguat setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran gagal mencapai kesepakatan atas proposal perdamaian yang disusun Washington. Kondisi tersebut meningkatkan ekspektasi permintaan biodiesel.
Ekspor Naik
Sentimen pasar juga terdorong kenaikan ekspor. Lembaga survei kargo Intertek Testing Services mencatat ekspor minyak sawit pada periode 1–10 Mei naik 8,5% dibanding periode yang sama bulan April.
Dari sisi kebijakan, Malaysia akan menerapkan mandat biodiesel B15 mulai 1 Juni mendatang, meningkat dari kebijakan saat ini B10, guna menekan impor bahan bakar sekaligus mendorong konsumsi domestik.
Namun, penguatan harga tertahan data bulanan Malaysian Palm Oil Board (MPOB) yang menunjukkan stok minyak sawit April naik 1,71% dibanding bulan sebelumnya menjadi 2,31 juta ton metrik. Produksi juga melonjak 18,37% menjadi 1,63 juta ton.
Di sisi lain, kekhawatiran permintaan masih membayangi setelah impor minyak sawit India, sebagai pembeli terbesar dunia, anjlok 27% secara bulanan pada April ke level terendah dalam satu tahun.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler






