Kamis, 14 Mei 2026

Tekanan ke Rupiah Bisa Berlanjut Karena MSCI

Penulis : Arnoldus Kristianus
12 Mei 2026 | 20:59 WIB
BAGIKAN
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyimak pertanyaan wartawan dalam acara konferensi pers di Jakarta. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menyimak pertanyaan wartawan dalam acara konferensi pers di Jakarta. (ANTARA FOTO/Aprillio Akbar)

JAKARTA, investor.id - Center of Reform on Economics (Core) Indonesia memperingatkan tekanan terhadap rupiah masih berpotensi berlanjut menjelang pengumuman hasil rebalancing indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Rabu (13/5/2026).

Peneliti Core Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan hasil rebalancing MSCI berpotensi memengaruhi stabilitas pasar keuangan domestik, termasuk nilai tukar rupiah.

“Kalau hasil rebalancing MSCI besok buruk, tentu bisa menambah tekanan ke pasar keuangan dan rupiah. Tapi penting dibedakan mana yang masih mengejutkan pasar dan mana yang sebenarnya sudah lama diantisipasi,” ujar Yusuf, Selasa (12/5/2026).

ADVERTISEMENT

Pada perdagangan Selasa sore, nilai tukar rupiah ditutup melemah 114 poin ke level Rp 17.528 per dolar AS, dibanding penutupan sebelumnya di level Rp 17.414 per dolar AS. Menurut Yusuf, untuk skenario dasar, pasar sebenarnya telah banyak melakukan pricing in terhadap potensi hasil rebalancing MSCI.

Ia menilai saham-saham yang berisiko keluar dari indeks, seperti PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN) dan PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), sudah mengalami tekanan dalam beberapa waktu terakhir. Selain itu, arus keluar modal asing (outflow) juga telah terjadi sejak beberapa pekan terakhir.

“Jadi kalau hasil hanya sesuai ekspektasi pasar, dampak tambahannya kemungkinan terbatas karena investor sudah mencicil penyesuaian posisi lebih dulu,” tutur Yusuf.

Tekanan ke Rupiah Bisa Berlanjut Karena MSCI
Evaluasi Kebijakan MSCI bagi Saham Indonesia. (OJK & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi Gemini AI)

Namun, ia mengingatkan risiko yang lebih besar justru muncul apabila terdapat kejutan negatif (negative surprise) dalam hasil rebalancing tersebut. Menurut Yusuf, tekanan lanjutan dapat terjadi apabila saham yang terdampak lebih banyak dari perkiraan, bobot Indonesia dalam indeks MSCI turun lebih dalam, atau terdapat catatan negatif terkait transparansi dan struktur pasar Indonesia.

“Itu bisa memicu tekanan lanjutan, terutama karena passive fund dan ETF biasanya baru melakukan rebalancing mendekati tanggal efektif,” jelasnya.

Di sisi lain, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti, mengatakan tekanan terhadap rupiah saat ini dipengaruhi kombinasi faktor global dan domestik. Dari sisi global, meningkatnya ketegangan konflik di Timur Tengah mendorong kenaikan harga minyak dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan dunia.

Tekanan ke Rupiah Bisa Berlanjut Karena MSCI
Dampak Pelemahan Rupiah bagi Sektor Ekonomi, 2026. (Apindo & berbagai sumber/Melati Kristina/Diproduksi ChatGPT)

Sementara dari domestik, meningkatnya kebutuhan dolar AS untuk pembayaran utang luar negeri, dividen, dan kebutuhan ibadah haji turut menambah permintaan valas di pasar domestik.

Untuk menjaga stabilitas rupiah, BI memastikan tetap berada di pasar melalui kebijakan smart intervention di pasar spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun Non-Deliverable Forward (NDF). Selain itu, BI juga mengoptimalkan instrumen operasi moneter guna meredam tekanan terhadap rupiah.

“BI melihat confidence investor asing di aset portfolio terus membaik yang tercermin dari masuknya inflow. Khususnya ke pasar surat berharga negara dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia selama bulan April sebesar Rp 61,6 triliun,” terang Destry.

Editor: Prisma Ardianto

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


National 3 menit yang lalu

KPK Dalami Aliran Uang Urus Pita Cukai Rokok dan Miras ke Pegawai DJBC Ahmad Dedi

KPK terus mendalami aliran uang kepada pegawai DJBC Ahmad Dedi (Dedi Congor) yang diduga terkait pengurusan pita cukai rokok dan miras.
Market 20 menit yang lalu

Saham-saham Penyangga Pasar

Terdapat 10 saham paling berpengaruh terhadap pergerakan IHSG. Ada saham SMMA, BRMS, INCO, dan lain-lain.
Market 50 menit yang lalu

Barisan Saham yang Bikin Investor Tekor Parah

Sebanyak 10 saham jadi penyebab investor tekor parah pada perdagangan pasar pekan ini. Harga sahamnya ambles dari 19% hingga 37%.
Market 1 jam yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia