Kamis, 14 Mei 2026

Harga Minyak Menggila, Dunia Dibayangi Krisis Pasokan

Penulis : Indah Handayani
13 Mei 2026 | 04:45 WIB
BAGIKAN
ilustrasi harga minyak
Sumber: Freepik
ilustrasi harga minyak Sumber: Freepik

NEW YORK, investor.idHarga minyak dunia kembali ditutup melonjak pada perdagangan Selasa (12/5/2026), memperpanjang reli selama tiga hari berturut-turut di tengah memudarnya harapan perdamaian antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.

Dikutip dari Reuters, ketegangan geopolitik yang terus meningkat memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi global berkepanjangan.

Harga minyak Brent melonjak US$ 3,56 (3,42%) menjadi US$ 107,77 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) AS melonjak US$ 4,11 (4,19%) ke level US$ 102,18 per barel.

ADVERTISEMENT

Sebelumnya, kedua acuan minyak tersebut juga telah menguat hampir 3% pada perdagangan Senin.

Lonjakan harga minyak dipicu pernyataan Presiden AS Donald Trump yang menyebut negosiasi gencatan senjata dengan Iran berada dalam kondisi ‘on life support’. Pernyataan itu mencerminkan masih lebarnya perbedaan antara Washington dan Teheran terkait proposal penghentian perang di Timur Tengah.

Iran meminta penghentian seluruh aksi militer, pencabutan blokade laut AS, pemulihan ekspor minyak Iran, kompensasi kerusakan perang, hingga pencabutan sanksi ekonomi.

Selain itu, Iran juga menegaskan kedaulatannya atas Selat Hormuz, jalur strategis yang dilalui sekitar 20% perdagangan minyak dan gas alam cair dunia.

“Pasar mulai meragukan kesepakatan damai bisa segera tercapai,” ujar analis StoneX Alex Hodes.

Badan Informasi Energi AS (EIA) memperkirakan Selat Hormuz berpotensi tetap tertutup hingga akhir Mei 2026. Proyeksi tersebut lebih lama dibanding perkiraan sebelumnya yang hanya sampai akhir April.

EIA memperingatkan pemulihan produksi dan pola perdagangan minyak global kemungkinan baru kembali normal pada akhir 2026 atau awal 2027 meskipun jalur pelayaran nantinya kembali dibuka.

Gangguan di Selat Hormuz telah membuat sejumlah produsen mengurangi ekspor minyaknya. Survei Reuters menunjukkan produksi minyak OPEC pada April turun ke level terendah dalam lebih dari dua dekade.

Stok Minyak Menyusut

EIA memperkirakan sekitar 10,5 juta barel per hari (bph) produksi minyak Timur Tengah hilang selama April akibat gangguan distribusi energi.

Namun, sejumlah analis memperkirakan dampaknya jauh lebih besar. Kepala Global Oil and Gas Houlihan Lokey JP Hanson, menyebut konflik tersebut menciptakan defisit pasokan hingga 14 juta bph.

“Pasar kini menghadapi defisit agregat hingga miliaran barel di tengah menipisnya cadangan strategis dan terbatasnya kapasitas pengganti pasokan,” ujar Hanson.

CEO Saudi Aramco Amin Nasser juga memperingatkan gangguan ekspor minyak melalui Selat Hormuz dapat menunda stabilitas pasar energi global hingga 2027.

Krisis pasokan membuat banyak negara mulai menguras cadangan energi mereka. EIA kini memperkirakan persediaan minyak global menyusut sekitar 2,6 juta bph tahun ini, jauh lebih besar dibanding proyeksi sebelumnya sebesar 300 ribu bph.

Di AS, stok minyak mentah diperkirakan turun sekitar 2,1 juta barel pekan lalu. Persediaan bahan bakar AS juga diperkirakan menyusut.

“Pasokan global terus mengetat setiap hari dan kehilangan pasokan jauh lebih besar dibanding penurunan permintaan akibat kenaikan harga,” tulis Ritterbusch and Associates.

Pelaku pasar juga menanti pertemuan Trump dengan Presiden China Xi Jinping pada Kamis-Jumat pekan ini. 14-15 Mei 2026. Pertemuan tersebut menjadi sorotan setelah Washington menjatuhkan sanksi terhadap tiga individu dan sembilan perusahaan yang dituding membantu pengiriman minyak Iran ke China.

Di sisi lain, perang dagang AS-China juga membuat impor minyak dan LNG AS ke China hampir berhenti total. Nilai perdagangan energi kedua negara sebelumnya mencapai US$ 8,4 miliar pada 2024.

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 25 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 57 menit yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 1 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Purbaya: Tak Ada Tax Amnesty Lagi Kecuali Perintah Presiden

Menkeu Purbaya menegaskan tak akan ada tax amnesty lagi selama dirinya menjabat, kecuali atas perintah Presiden.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia