Kamis, 14 Mei 2026

Harga CPO Anjlok Kena Tekanan ganda

Penulis : Indah Handayani
13 Mei 2026 | 05:30 WIB
BAGIKAN
ilustrasi CPO (ist)
ilustrasi CPO (ist)

JAKARTA, investor.id – Harga kontrak Crude Palm Oil (CPO) di Bursa Malaysia Derivatives (BMD) anjlok pada Selasa (12/5/2026). Pelemahan itu akibat tekanan dari pasar minyak nabati China dan meningkatnya stok sawit Malaysia.

Berdasarkan data BMD pada penutupan Selasa (12/5/2026), kontrak berjangka CPO untuk Mei 2026 jatuh 44 Ringgit Malaysia menjadi 4.451 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Juni 2026 melemah 34 Ringgit Malaysia menjadi 4.450 Ringgit Malaysia per ton.

Sementara itu, kontrak berjangka CPO Juli 2026 terkoreksi 35 Ringgit Malaysia menjadi 4.481 Ringgit Malaysia per ton. Kontrak berjangka CPO Agustus 2026 turun 28 Ringgit Malaysia menjadi 4.504 Ringgit Malaysia per ton.

ADVERTISEMENT

Kontrak berjangka CPO September 2026 melemah 26 Ringgit Malaysia menjadi 4.515 Ringgit Malaysia per ton. Sedangkan Kontrak berjangka CPO Oktober 2026 turun 23 Ringgit Malaysia menjadi 4.525 Ringgit Malaysia per ton.

Dikutip dari Tradingview, harga CPO berbalik arah setelah sempat menguat pada sesi sebelumnya. Pelemahan terjadi seiring tekanan dari pasar minyak nabati China, khususnya olein sawit Dalian yang mengalami aksi jual sepanjang perdagangan Asia.

“Pasar terbebani tekanan jual pada kontrak palm olein Dalian selama sesi perdagangan Asia,” ujar seorang trader berbasis di Kuala Lumpur.

Di pasar China, kontrak minyak kedelai paling aktif di Dalian naik 0,16%, sedangkan kontrak minyak sawit turun 1,35%. Sementara itu, harga minyak kedelai di Chicago Board of Trade (CBOT) menguat 0,81%.

Harga minyak sawit biasanya bergerak mengikuti rivalnya di pasar minyak nabati global karena saling bersaing dalam pasar minyak nabati dunia.

Harga Minyak Melonjak

Di sisi lain, harga minyak mentah dunia melonjak tinggi setelah harapan tercapainya kesepakatan damai terkait konflik AS-Iran mulai memudar. Kenaikan harga minyak mentah membuat CPO lebih menarik sebagai bahan baku biodiesel.

Namun, sentimen pasar juga dibayangi kenaikan stok minyak sawit Malaysia pada April yang menjadi kenaikan pertama dalam empat bulan terakhir.

Data Malaysian Palm Oil Board (MPOB) menunjukkan stok naik akibat turunnya ekspor di tengah lonjakan produksi dan peningkatan impor.

Survei Intertek Testing Services memperkirakan ekspor produk sawit Malaysia pada periode 1-10 Mei naik 8,5% dibanding bulan sebelumnya.

Namun, lembaga survei independen AmSpec Agri Malaysia justru memperkirakan ekspor turun 10,8% pada periode yang sama.

Sementara itu, nilai tukar ringgit Malaysia melemah 0,31% terhadap dolar AS sehingga membuat harga CPO sedikit lebih murah bagi pembeli yang memegang mata uang asing.

 

Editor: Indah Handayani

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Market 14 menit yang lalu

Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo

Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.
Macroeconomy 25 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 54 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 2 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 2 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia