Kamis, 14 Mei 2026

OJK Pede Pasar Modal RI Punya Peluang ke Level Lebih Tinggi dari Emerging Market

Penulis : Bambang Ismoyo
13 Mei 2026 | 14:12 WIB
BAGIKAN
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi. (B-Universe)
Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi. (B-Universe)

JAKARTA, investor.id - Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menegaskan pasar modal Indonesia hingga saat ini masih berada dalam kategori emerging market di tengah adanya proses evaluasi dan review berkala yang dilakukan sejumlah penyedia indeks global seperti MSCI.

Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK, Hasan Fawzi mengungkapkan, proses peninjauan klasifikasi pasar merupakan siklus rutin yang dilakukan lembaga indeks internasional terhadap berbagai negara, termasuk Indonesia.

“Indeks provider global, baik MSCI dan lainnya itu memiliki siklus kegiatan. Ada yang bersifat review dari indeks yang seperti MSCI lakukan hari ini dan sebagainya. Ada juga nanti upaya mereka untuk melakukan market classification atau klasifikasi kelas pasar,” ungkap Hasan di Gedung Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Rabu (13/5/2026).

ADVERTISEMENT

Meski demikian, regulator menegaskan pihaknya terus melakukan langkah proaktif untuk menjaga kepercayaan investor sekaligus meningkatkan kualitas pasar modal nasional.

OJK menegaskan Indonesia tidak hanya ingin bertahan di level emerging market, tetapi juga memiliki ambisi untuk naik ke klasifikasi pasar yang lebih tinggi di masa mendatang.

“Kami tentu ke depan ingin mendorong justru bukan katakanlah potensi turun klasifikasi. Kita punya potensi sebetulnya untuk mendorong pasar kita bahkan maju dan masuk ke klasifikasi di atasnya,” pungkasnya. 

OJK menyebut koordinasi dan komunikasi intensif dengan lembaga indeks global akan terus dilakukan, baik di level pengambil keputusan maupun teknis.

“Tentu kita ikuti siklus itu, tapi kami tidak ragu untuk melakukan berbagai langkah proaktif. Jadi setelah ini, upaya untuk pertemuan berkala secara intens baik di tingkat pengambil keputusan maupun teknis tetap akan kita lakukan,” jelasnya.

Dalam setiap pertemuan tersebut, OJK juga secara terbuka meminta masukan terkait sejauh mana reformasi dan transparansi pasar modal Indonesia dinilai telah memadai oleh investor global maupun penyedia indeks.

OJK mencontohkan, dalam pertemuan terakhir terdapat permintaan penyedia indeks untuk melihat data historis pasar modal Indonesia. Permintaan itu disebut tengah dipersiapkan bersama oleh otoritas terkait.

Di sisi lain, OJK optimistis fundamental pasar modal Indonesia tetap kuat dan memiliki prospek pertumbuhan jangka panjang yang positif. Hal tersebut dinilai menjadi faktor penting dalam penentuan klasifikasi pasar ke depan.

Editor: Erta Darwati

Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id

Follow

Baca Berita Lainnya di Google News

Read Now
BAGIKAN

Berita Terkait


Berita Terkini


Macroeconomy 12 menit yang lalu

Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer

Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.
Macroeconomy 41 menit yang lalu

Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya

Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI

Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.
Finance 1 jam yang lalu

Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban

Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.
Macroeconomy 1 jam yang lalu

Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026

DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.
Business 2 jam yang lalu

Dialog Lintas Sektor Diperlukan dalam Merumuskan Kebijakan terkait Tembakau

Direktur Perhimpunan Pengembangan Pesantren dan Masyarakat atau P3M, KH. Sarmidi Husna, MA mengatakan, kebijakan terkait produk tembakau tidak dapat dilihat hanya dari perspektif kesehatan semata.
Copyright © 2026 Investor.id
PT. Koran Media Investor Indonesia