Wall Street Cetak Rekor! Saham AI Jadi Motor Utama
NEW YORK, investor.id – Indeks-indeks saham Wall Street mayoritas mencetak rekor tertinggi sepanjang masa (all time high/ATH) pada perdagangan Rabu (13/5/2026). Penguatan itu didorong lonjakan saham teknologi dan antusiasme investor terhadap sektor kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dikutip dari CNBC internasional, penguatan itu terjadi di saat tekanan inflasi Amerika Serikat (AS) kembali memanas akibat perang Iran.
Indeks S&P 500 naik 0,58% ke level 7.444,25 dan mencetak rekor ATH penutupan baru. Nasdaq yang sarat saham teknologi melonjak 1,2% menjadi 26.402,34, juga mencatat rekor ATH baru. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average justru turun 67,36 poin (0,14%) ke level 49.693,20.
Saham teknologi menjadi motor utama penguatan pasar di tengah kekhawatiran lonjakan harga energi akibat perang Iran yang menekan sektor lain seperti ritel dan perbankan.
Saham NVIDIA melonjak lebih dari 2%, sedangkan Micron Technology melesat lebih dari 4%. ETF semikonduktor VanEck Semiconductor ETF (SMH) juga naik 2%.
Namun, data FactSet menunjukkan sekitar dua pertiga saham di indeks S&P 500 justru ditutup melemah. Saham ritel seperti Home Depot serta saham perbankan seperti JPMorgan Chase ikut tertekan.
Strategist investasi Baird Ross Mayfield mengatakan, investor kini melihat sektor chip dan AI memiliki pertumbuhan yang sangat kuat sehingga mampu mengabaikan tekanan ekonomi jangka pendek.
“Investor merasa sektor AI tetap akan tumbuh apa pun yang terjadi, sehingga saham teknologi menjadi tempat berlindung di tengah gejolak global dan lonjakan harga minyak,” ujar Mayfield.
Spekulasi Nvidia
Sentimen positif juga datang setelah CEO Nvidia Jensen Huang ikut mendampingi Presiden AS Donald Trump dalam kunjungannya ke China untuk bertemu Presiden China Xi Jinping. Langkah tersebut memicu spekulasi bahwa Nvidia berpeluang kembali memperluas penjualan chip AI ke pasar China di tengah ketegangan dagang kedua negara.
Meski demikian, Mayfield menilai reli saham chip berpotensi menghadapi tekanan jika kondisi ekonomi global terus memburuk dan perang Iran berlangsung lebih lama dari perkiraan.
Di sisi lain, data inflasi produsen AS atau Producer Price Index (PPI) melonjak 1,4% pada April, jauh di atas ekspektasi pasar sebesar 0,5% dan menjadi kenaikan bulanan terbesar sejak Maret 2022. Secara tahunan, inflasi grosir AS naik 6%, tertinggi sejak Desember 2022 dan melampaui proyeksi analis sebesar 4,9%.
Data tersebut memperkuat kekhawatiran pasar bahwa inflasi AS masih sulit turun sehingga dapat membuat The Fed mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
Editor: Indah Handayani
Follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
FollowBaca Berita Lainnya di Google News
Read NowBerita Terkait
Berita Terkini
Deretan Saham Pencetak Cuan Jumbo
Sejumlah saham mencetak cuan jumbo dan masuk daftar top gainers selama periode 11-13 Mei 2026.Rupiah Rp 17.500, Warga Serbu Money Changer
Rupiah melemah lagi ke Rp 17.526 per dolar AS. Money changer di Jakarta ramai didatangi warga untuk jual-beli valuta asing.Core Dukung Perluasan Insentif ke Sektor Padat Karya
Core dorong pemerintah memperluas program padat karya dan insentif industri manufaktur demi jaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.Giliran Purbaya Respons Surat Investor China soal Iklim Investasi RI
Menkeu Purbaya merespons keluhan pengusaha China soal iklim investasi RI dan menegaskan pemerintah tetap utamakan kepentingan nasional.Livin’ by Mandiri Beri Kemudahan Nasabah Berkurban
Bank Mandiri mempermudah pembelian hewan kurban secara digital melalui fitur Sukha di aplikasi Livin’ by Mandiri.Rupiah Tertekan, BI-Rate Diprediksi Naik pada Kuartal II-2026
DBS memprediksi BI berpotensi menaikkan BI-Rate pada kuartal II-2026 seiring pelemahan rupiah dan cadangan devisa yang menyusut.Tag Terpopuler
Terpopuler






